Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN

Karakteristik supervisi pengajaran, berbeda dengan supervisi pada industri manufaktur atau jenis pekerjaan lainnya. Faktor pertama yang menyebabkan perbedaan tersebut, adalah dari segi karakteristik pekerjaan yang disupervisi. Pekerjaan mengajar tentu tidak dapat disamakan dengan pekerjaan manual di perusahaan, karena mengajar yang dihadapai adalah peserta didik, melibatkan unsur intelektual dan emosional, sehingga sifat pekerjaannya tidak rutin. Kata kunci dalam supervisi pengajaran bukanlah pengawasan, namun bantuan pada guru untuk meningkatkan pembelajaran (Oliva, 1984: 9).

Perbedaan supervisi pengajaran dengan supervisi pada perusahaan, juga dapat ditemukan pada aspek tujuan. Supervisi pengajaran tujuan akhirnya tidak hanya pada kinerja guru, namun harus sampai pada meningkatkan hasil pembelajaran peserta didik. Seperti ditegaskan oleh Glickman (1981) bahwa supervisi pengajaran adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses belajar mengajar demi pencapaian tujuan pengajaran. Inilah tujuan ideal dari supervisi pengajaran. Apabila konsep-konsep ideal tersebut dilaksanakan, maka dapat diharapkan kualitas pendidikan di Indonesia akan meningkat secara signifikan.

Idealita supervisi pengajaran tersebut, praktiknya di lapangan selama ini masih jauh dari harapan. Berbagai kendala baik yang disebabkan oleh aspek struktur birokrasi yang rancu, maupun kultur kerja dan interaksi supervisor dengan guru yang kurang mendukung, telah mendistorsi nilai ideal supervisi pengajaran di sekolah-sekolah. Apa yang selama ini dilaksanakan oleh para Pengawas Pendidikan, belum bergeser dari nama jabatan itu sendiri, yaitu sekedar mengawasi.

Tulisan ini ingin mengupas realitas supervisi pengajaran dalam birokrasi pendidikan di Indonesia, dibandingkan dengan konsep-konsep teoritik supervisi. Dari identifikasi terhadap kesenjangan tersebut, akan diberikan tawaran solusi bagi upaya perbaikan pelaksanaan supervisi di masa mendatang.

  1. Bagaimana konsep ideal Supervisi ?
  2. Bagaimana pendekatan Supervisi ?
  3. Bagaimana pelaksanaan Supervisi di Indonesia

PEMBAHASAN

1. KONSEP IDEAL SUPERVISI

a. Peranan Supervisor Pengajaran

Supervisor pengajaran, tentu memiliki peran berbeda dengan “pengawas”. Supervisor, lebih berperan sebagai “gurunya guru” yang siap membantu kesulitan guru dalam mengajar. Supervisor pengajaran bukanlah seorang pengawas yang hanya mencari-cari kesalahan guru.

Oliva (1984) mengemukakan peran supervisor yang utama, ada empat hal, yaitu: (a) sebagai koordinator, berperan mengkoordinasikan program-program dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran dan harus membuat laporan mengenai pelaksanaan programnya; (b) sebagai konsultan, supervisor harus memiliki kemampuan sebagai spesialis dalam masalah kurikulum, metodologi pembelajaran, dan pengembangan staf, sehingga supervisor dapat membantu guru baik secara individual maupun kelompok; (c) sebagai pemimpin kelompok (group leader), supervisor harus memiliki kemampuan me-mimpin, memahami dinamika kelompok, dan menciptakan berbagai ben-tuk kegiatan kelompok; dan (d) sebagai evaluator, supervisor harus dapat memberikan bantuan pada guru untuk dapat mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dan kurikulum, serta harus mampu membantu mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru, membantu melakukan penelitian dan pengembangan dalam pembelajaran dan sebagainya.

Sementara itu, menurut Wiles dan Bondi (1986: 17-23) peranan supervisor mencakup delapan bidang kompetensi, yaitu:

a) supervisors are developers of people;

b) supervisors are curriculum developers;

c) supervisors are instructional specialist;

d) supervisors are human relation worker;

e) supervisors are staff developers;

f) supervisors are adminis-trators;

g) supervisors are managers of change; dan

h) supervisors are evaluators

b. Kompetensi Supervisor

Untuk dapat melaksanakan peran-peran di atas, supervisor harus memiliki beberapa kompetensi dan kemampuan pokok, yaitu berkaitan dengan substantive aspects of professional development, meliputi pemahaman dan pemilikan guru terhadap tujuan pengajaran, persepsi guru terhadap peserta didik, pengetahuan guru tentang materi, dan penguasaan guru terhadap teknik mengajar. Kedua berkaitan dengan professional development competency areas, yaitu agar para guru mengetahui bagaimana mengerja-kan tugas (know how to do), dapat mengerjakan (can do), mau mengerja-kan (will do) serta mau mengembangkan profesionalnya (will grow) (Ba-fadal, 1992: 10-11).

Glatthorn (1990) menyatakan kompetensi yang harus dimiliki su-pervisor meliputi hal-hal yang berkaitan dengan the nature of teaching, the nature of adult development, dan tentu saja juga the characteristics of good and effective school.

Berkaitan dengan hakikat pengajaran, supervisor harus memahami keterkaitan berbagai variabel yang berpengaruh. Pertama, adalah faktor-faktor organisasional, terutama budaya organisasi dan keberadaan tenaga profesional lainnya dalam lembaga pendidikan. Kedua, berkaitan dengan pribadi guru, menyangkut pengetahuan guru, kemampuan membuat perencanaan dan mengambil keputusan, motivasi kerja, tahapan perkembangan atau kematangan, dan keterampilan guru. Ketiga, berkaitan dengan support system dalam pengajaran, yaitu kurikulum, berbagai buku teks, serta ujian-ujian. Terakhir, adalah siswa sendiri yang keberadaannya di dalam kelas sangat bervariasi.

Dalam hal adult development, supervisor harus mengetahui tahapan perkembangan dan kematangan kerja seorang guru, tahapan perkembangan moral, tahapan pengembangan profesional, serta berbagai prinsip dan teknik pembelajaran orang dewasa.

Ketiga, supervisor harus mengetahui ukuran kemajuan dan keefektifan sebuah sekolah. Hal ini merupakan muara dari kegiatan yang dilakukan bersama para guru dan kepala sekolah. Selain berkaitan dengan pembelajaran di dalam kelas, supervisor juga harus siap membantu kepala sekolah dalam bidang manajerial secara umum.

c. Teknik-teknik Supervisi

Dengan bekal kompetensi di atas, supervisor diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Dalam pelaksanaan supervisi terdapat berbagai teknik dan pendekatan yang dapat diterapkan oleh supervisor.

Teknik supervisi, dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Neagley, Ross, Evans dan Dean (1980) mengidentifikasi berbagai teknik supervisi individual meliputi kegiatan di dalam dan di luar kelas. Aktivitas supervisi individual yang dilakukan di dalam ruang kelas, anta-ra lain: (a) kunjungan dan observasi kelas, (b) supervisi dengan tujuan un-tuk mengetahui kompetensi, (c) supervisi klinis, dan (d) perbincangan supervisor dengan guru.

Secara individual, program supervisi di luar ruang kelas dalam arti pengembangan profesional guru secara umum, antara lain berupa: (a) mengambil matakuliah di perguruan tinggi, (b) keterlibatan dalam evaluasi, (c) konferensi dan kegiatan profesi lainnya, (d) pemilihan buku teks dan bahan-bahan pembelajaran lainnya, (e) membaca jurnal/bacaan profesi, (f) menulis artikel mengenai profesi, (g) pemilihan guru/staf profesional, (h) pertemuan informal supervisor dengan guru, dan (i) berbagai bentuk pengalaman lain yang memungkinkan peningkatan profesional guru.

Berbagai kegiatan supervisi yang dilakukan secara kelompok, antara lain (a) orientasi bagi guru baru, (b) ujicoba di kelas atau penelitian tindakan kelas, (c) pelatihan sensitivitas, (d) pertemuan guru yang efektif, (e) melakukan teknik Delphi untuk mengambil keputusan mengenai perbaikan pengajaran/sekolah, (f) mengunjungi guru lain yang profesional, (g) pengembangan instrument ujian secara bersama, dan (h) pusat kegiatan guru.

Dalam kegiatan supervisi kelompok tersebut, tentu saja peran supervisor yang menonjol adalah sebagai koordinator dan group leader. Sementara itu dalam kegiatan supervisi individual, supervisor lebih berperan sebagai konsultan. Berbagai bentuk kegiatan atau taknik supervisi tersebut tentunya sangat tergantung pada inisiatif supervisor.

2. PENDEKATAN SUPERVISI

Dalam pelaksanaan supervisi, karakteristik guru yang dihadapi oleh supervisor pasti berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi usia dan kematangan, pengalaman kerja, motivasi maupun kemampuan guru. Karena itu, supervisor harus menerapkan pendekatan yang sesuai dengan karakteritik guru yang dihadapinya. Apabila pendekatan yang digunakan tidak sesuai, maka kegiatan supervisi kemungkinan tidak akan berjalan dengan efektif.

Sergiovanni (1982), mengemukakan berbagai pendekatan supervisi, antara lain (a) supervisi ilmiah (scientific supervision), (b) supervisi klinis (clinical supervision), (c) supervisi artistik, (d) integrasi di antara ketiga pendekatan tersebut.

a. Supervisi Ilmiah

John D. McNeil (1982), menyatakan bahwa terdapat tiga pandangan mengenai supervisi ilmiah sebagai berikut :

Pertama, supervisi ilmiah dipandang sebagai kegiatan supervisi yang dipengaruhi oleh berkembangnya manajemen ilmiah dalam dunia industri. Menurut pandangan ini, kekurang berhasilan guru dalam mengajar, harus dilihat dari segi kejelasan pengaturan serta pedoman- pedoman kerja yang disusun untuk guru. Oleh karena itu, melalui pendekatan ini, kegiatan mengajar harus dilandasi oleh penelitian, agar dapat dilakukan perbaikan secara tepat.

Kedua, supervisi ilmiah dipandang sebagai penerapan penelitian ilmiah dan metode pemecahan masalah secara ilmiah bagi penyelesaian permasalahan yang dihadapi guru di dalam mengajar. Supervisor dan guru bersama-sama mengadopsi kebiasaan eksperimen dan mencoba berbagai prosedur baru serta mengamati hasilnya dalam pembelajaran.

Ketiga, supervisi ilmiah dipandang sebagai democratic ideology. Maksudnya setiap penilaian atau judgment terhadap baik buruknya seorang guru dalam mengajar, harus didasarkan pada penelitian dan analisis statistik yang ditemukan dalam action research terhadap problem pembelajaran yang dihadapi oleh guru. Intinya supervisor dan guru harus mengumpulkan data yang cukup dan menarik kesimpulan mengenai problem pengajaran yang dihadapi guru atas dasar data yang dikumpulkan. Hal ini sebagai perwujudan terhadap ideologi demokrasi, di mana seorang guru sangat dihargai keberadaannya, serta supervisor menilai tidak atas dasar opini semata.

Keempat, pandangan tersebut tentunya sampai batas tertentu saat ini masih relevan untuk diterapkan. Pandangan bahwa guru harus memiliki pedoman yang baku dalam mengajar, perlu juga dipertimbangkan. Demikian pula pendapat bahwa guru harus dibiasakan melakukan penelitian untuk memecahkan problem mengajarnya secara ilmiah, dapat pula diadopsi. Pandangan terakhir tentunya harus menjadi landasan sikap supervisor, di mana ia harus mengacu pada data yang cukup untuk menilai dan membina guru.

b. Supervisi Artistik

Supervisi artistik dapat dikatakan sebagai antitesa terhadap supervisi ilmiah. Supervisi ini bertolak dari pandangan bahwa mengajar, bukan semata-mata sebagai science tapi juga merupakan suatu art. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan dalam meningkatkan kinerja mengajar guru juga harus mempertimbangkan dimensi tersebut.

Elliot W. Eisner (1982) menyatkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan supervisi artistik, ialah pendekatan yang menekankan pada sensitivitas, perceptivity, dan pengetahuan supervisor untuk mengapresiasi segala aspek yang terjadi di kelas, dan kemudian menggunakan bahasa yang ekspresif, puitis serta ada kalanya metaforik untuk mempengaruhi guru agar melakukan perubahan terhadap apa yang telah diamati di dalam kelas. Dalam supervisi ini, instrumen utamanya bukanlah alat ukur atau pedoman observasi, melainkan manusia itu sendiri yang memiliki perasaan terhadap apa yang terjadi. Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan (suasana) kependidikan di sekolah.

Dari pengertian tersebut, mungkin dapat dianalogikan dengan pendekatan penelitian. Supervisi ilmiah paradigmanya identik dengan penelitian kuantitatif sementara itu supervisi artistik lebih dekat dengan pendekatan penelitian kualitatif.

c. Supervisi Klinis

Supervisi klinis berangkat dari cara pandang kedokteran, yaitu untuk mengobati penyakit, harus terlebih dahulu diketahui apa penyakitnya. Inilah yang harus dilakukan oleh supervisor terhadap guru apabila ia hendak membantu meningkatkan kualitas pembelajaran mereka.

Supervisi klinis dilakukan melalui tahapan-tahapan: (a) pra observasi, yang berisi pembicaraan dan kesepakatan antara supervisor dengan guru mengenai apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang dilakukan, (b) observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan fokus yang telah disepakati, (c) analisis, dilakukan secara bersamasama oleh supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan, dan (d) perumusan langkah-langkah perbaikan, dan pembuatan rencana untuk perbaikan.

3. PELAKSANAAN SUPERVISI DI INDONESIA

a. Jabatan Supervisor dan Legalitasnya

Kenyataan yang pertama kali harus disadari sebelum berbicara mengenai pelaksanaan supervisi yang ideal, adalah bahwa dalam peraturan mengenai kependidikan di Indonesia ini, tidak dikenal adanya jabatan supervisor. Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 berbunyi, “Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan”.

Ayat tersebut selanjutnya diberikan penjelasan bahwa “Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.

Berdasarkan pada landasan hukum di atas, maka konteks supervisi pengajaran di Indonesia tercakup dalam konsep pembinaan dan pengawasan. Sejak 1996 pemerintah melalui Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas dan Angka Kreditnya, telah menetapkan (pejabat) Pengawas sebagai pelaksana tugas pembinaan/supervisi guru dan sekolah. Teknis pelaksanaan Keputusan Menpan tersebut dijabarkan dalam Keputusan Bersama Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 0322/O/1996 dan nomor 38 tahun 1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kerditnya. Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan Pengawas Sekolah adala” Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas untuk melakukan pengawasan dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan pra sekolah, dasar, dan menengah“.

Sebagai tenaga fungsional kependidikan, Jabatan Pengawas selanjutnya dibuat penjenjangan sebagaimana jabatan pendidik/guru. Dengan demikian jabatan pengawas telah diakui secara resmi sebagai jabatan fungsional. Jabatan tersebut mencerminkan kompetensi dan profesionalitas dalam pelaksanaan tugas sebagaimana jabatan fungsional lainnya.

b. Pelaksanaan Supervisi oleh Pengawas

Penelitian yang dilakukan oleh Ekosusilo (2003:75) menunjukkan kenyataan pelaksanaan supervisi oleh pengawas sungguh bertolak belakang dengan konsep ideal supervisi. kegiatan supervisi yang dilakukan oleh pengawas, masih jauh dari substansi teori supervisi. Supervisi yang dilakukan oleh pengawas lebih dekat pada paradigma inspeksi atau pengawasan. Upaya “membantu guru” dengan terlebih dahulu menjalin hubungan yang akrab sebagai syarat keberhasilan supervisi pengajaran, belum dilakukan oleh para pengawas.

c. Pelaksanaan Supervisi oleh Kepala Sekolah

Salah satu tugas pokok kepala sekolah, selain sebagai administrator adalah juga sebagai supervisor (Mulyasa, 2003). Tugas ini termasuk dalam kapasitas kepala sekolah sebagai instructional leader.

Dalam kenyataannya, pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah, sebagaimana pengawas, juga masih terfokus pada pengawasan administrasi. Pada umumnya kepala sekolah akan melakukan supervisi pengajaran pada guru melalui kunjungan kelas, apabila dia mendapat laporan mengenai kinerja guru yang kurang baik, atau berbeda dari teman-temannya. Bahkan seringkali dijumpai, seorang kepala sekolah melakukan supervisi terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dengan cara mengintip dari balik pintu atau jendela, agar tidak diketahui.

Perilaku kepala sekolah tersebut dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya (Jawa) yaitu pekewuh yang dipersepsikan secara salah. Dalam pemahaman yang salah tersebut, apabila kepala sekolah melakukan supervisi kunjungan kelas dan mengamati PBM yang dilakukan guru, maka ia dianggap tidak percaya pada kemampuan guru. Hal ini akan menimbulan konflik dalam hubungan guru dengan kepala sekolah.

d. Kendala-kendala Pelaksanaan Supervisi

Kendala pelaksanaan supervisi yang ideal dapat dikategorikan dalam dua aspek, yaitu struktur dan kultur. Pada aspek struktur birokrasi pendidikan di Indonesia ditemukan kendala antara lain sebagai berikut :

Pertama, secara legal yang ada dalam nomenklatur adalah jabatan pengawas bukan supervisor. Hal ini mengindikasikan paradigma berpikir tentang pendidikan yang masih dekat dengan era inspeksi.

Kedua, lingkup tugas jabatan pengawas lebih menekankan pada pengawasan administrasti yang dilakukan oleh kepala sekolah dan guru. Asumsi yang digunakan adalah apabila administrasinya baik, maka pengajaran di sekolah tersebut juga baik. Inilah asumsi yang keliru.

Ketiga, rasio jumlah pengawas dengan sekolah dan guru yang harus dibina/diawasi sangat tidak ideal. Di daerah-daerah luar pula Jawa misalnya, seorang pengawas harus menempuh puluhan bahkan ratusan kilo meter untuk mencapai sekolah yang diawasinya; dan

Keempat, persyaratan kompetensi, pola rekrutmen dan seleksi, serta evaluasi dan promosi terhadap jabatan pengawas juga belum mencerminkan perhatian yang besar terhadap pentingnya implementasi supervisi pada ruh pedidikan, yaitu interaksi belajar mengajar di kelas.

Pada aspek kultural dijumpai kendala antara lain :

Pertama, para pengambil kebijakan tentang pendidikan belum berpikir tentang pengembangan budaya mutu dalam pendidikan. Apabila dicermati, maka mutu pendidikan yang diminta oleh customers sebenarnya justru terletak pada kualitas interaksi belajar mengajar antara siswa dengan guru. Hal ini belum menjadi komitmen para pengambil kebijakan, juga tentu saja para leksana di lapangan.

Kedua, nilai budaya interaksi sosial yang kurang positif, dibawa dalam interaksi fungsional dan professional antara pengawas, kepala sekolah dan guru. Budaya ewuh-pakewuh, menjadikan pengawas atau kepala sekolah tidak mau “masuk terlalu jauh” pada wilayah guru.

Ketiga, budaya paternalistik, menjadikan guru tidak terbuka dan membangun hubungan professional yang akrab dengan kepala sekolah dan pengawas. Guru menganggap mereka sebagai “atasan” sebaliknya pengawas menganggap kepala sekolah dan guru sebagai “bawahan”. Inilah yang menjadikan tidak terciptanya rapport atau kedekatan hubungan yang menjadi syarat pelaksanaan supervisi.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Demikianlah uraian mengenai supervisi pengajaran, antara konsep teoritik dan kenyataannya. Pelaksanaan supervisi pengajaran di lapangan, kenyataannya masih jauh dari konsep teoritik yang dikembangkan di jurusan/program manajemen pendidikan. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, diperlukan sosialisasi dan “tekanan” dari pihak-pihak yang komit terhadap kualitas pendidikan di Indonesia kepada para pengambil kebijakan dan pengelola pendidikan. Hal ini secara bersama-sama harus dilakukan dengan pengembangan budaya mutu dalam pendidikan, yang intinya terletak pada kualitas proses pembelajaran di dalam kelas.

2. Saran-saran

Berangkat dari kenyataan dan kendala pelaksanaan supervisi di Indonesia, maka untuk menuju pada supervisi yang ideal diperlukan langkah-langkah antara lain :

Pertama, menegaskan, dan apabila perlu memisahkan jabatan supervisor dengan jabatan pengawas dalam struktur birokrasi pendidikan di Indonesia. Dalam hal ini, terdapat dua pilihan, yaitu mengarahkan jabatan pengawas agar terartikulasi pada peran dan tugas sebagai supervisor, atau mengangkat supervisor secara khusus dan tetap membiarkan jabatan pengawas melaksanakan fungsi pengawasan.

Kedua, memperbaiki pola pendidikan prajabatan maupun inservice rekrutmen, seleksi, penugasan, serta penilaian dan promosi jabatan supervisor/pengawas.

Ketiga, dalam konteks otonomi daerah, jabatan supervisor dapat diangkat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

Keempat, membangun kesadaran budaya mutu dalam pendidikan bagi pengelola-pengelola pendidikan pada semua tingkatan.

Kelima, mendorong kepala sekolah berperan sebagai instructional leader dan mengurangi porsi tugas-tugas administratif.

Keenam, mengikis pola hubungan yang paternalistik antara pengawas/kepala sekolah dengan guru dan mengembangkan hubungan profesional yang akrab dan terbuka untuk meningkatkan pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN

Aqib, Zainal dan Rohmanto, Elham, 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung: CV. Yrama Widya

Bafadal, 1992. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Ekosusilo, Madyo. 1998. Supervisi Pengajaran dalam Latar Budaya Jawa. Sukoharjo: Univet Bantara Press.

Encok, Mulyasa. 2003. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Glatthorn, Allan A.1990. Supervisory Leadeship: Introduction to Instructional Supervision. USA: HarperCollins Publishers.

Glickman, Carl. D. 1981. Developmental Supervision: Alternative Practice for Helping Teacherss Improve Instruction. Alexandria: ASCD

Keputusan MENPAN Nomor 118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas dan Angka Kreditnya

Keputusan Bersama Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 0322/O/1996 dan Nomor 38 tahun 1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kerditnya.

Mantja, W. 2007, Profesionalisasi Tenaga Kependidikan: Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. Malang: Elang Mas

Oliva, Peter. F. 1984. Supervison for Today’s School. 2nd Edition. New York: Longman.

Sergiovanni, T.J. Ed. 1982. Supervision of Teaching. Alexandria: ASCD

Sergiovanni, T.J. dan Starrat, R.J. 1993. Supervision A Redefinition. 5th Ed. New York: McGraw-Hill Book Co.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wiles, Jon dan Bondi, Joseph. 1986. Supervision A Guide to Practice. 2nd Ed. Columbus: Char

MANAJEMEN DAN FILSAFAT

PENDAHULUAN

Filsafat atau falsafah mempunyai banyak pengertian. Menurut Socrates, filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Tetapi tugas filsafat tidak menjawab pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, tetapi mempersoalkan jawaban yang diberikan. Berfilsafat adalah berpikir radikal atau sampai kepada radiks-nya (akarnya), menyeluruh dan mendasar. Hal-hal yang sekecil-kecilnyapun tidak akan luput dari pengamatan kefilsafatan. Pernyataan apapun dan betapapun sederhananya tidak diterima begitu saja oleh filsafat tanpa pengujian yang seksama.

Mengenai filsafat itu sendiri diterangkan oleh Will Durant bahwa mula-mula ada dua cabang filsafat, yaitu (1) filsafat alami (natural philosophy) dan (2) filsafat moral (moral philosophy). Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam, sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial. Dari keterangan paragraf terdahulu jelas kiranya bahwa adanya ilmu didahului oleh adanya filsafat. Pertumbuhan dan perkembangan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Oleh karena itu, untuk dapat memahami ilmu terlebih dahulu perlu dipahami filsafat. Filsafat menjadi pionir yang mencarikan obyek kepada ilmu dan memberikan pedoman kepadanya.

Filsafat bersifat menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Dengan kata lain cakupan filsafat hanyalah mengenai hal-hal yang bersifat umum. Hal-hal yang bersifat khusus menjadi kajian ilmu. Jadi cakupan ilmu memang lebih sempit dari pada cakupan filsafat. Meskipun cakupan ilmu lebih sempit, kajian ilmu adalah lebih mendalam dan lebih tuntas.

Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es situ untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.

Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekolah dasar, pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi, berfilsafat tentang ilmu berarti berterus terang kepada diri sendiri. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empriris.

Ilmu mengalami perkembangan, yaitu perkembangan tahap awal dan tahap akhir. Pada perkembangan tahap awal ilmu masih menggunakan norma filsafat sebagai dasarnya, sedangkan metodenya adalah metode normatif dan deduktif. Pada tahap akhir ilmu menggunakan temuan-temuan sebagai dasarnya dan menyatakan diri sebagai sesuatu yang otonom (mandiri) yang terlepas dari filsafat, adapun metodenya adalah deduktif dan induktif. Pandangan mengenai sejarah perkembangan ilmu yang ditinjau dari perilaku ilmuannya sebagaimana dikemukakan oleh August Conte adalah sebagai berikut : Ada tiga tingkatan perkembangan ilmu yakni, (1) tingkat religi, (2) tingkat metafisika, dan (3) tingkat ilmiah.

Telaah ilmu dari segi filosofis adalah telaah yang berusaha menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Telaah tersebut dinamakan filsafat ilmu. Pertanyaan yang diusahakan untuk dijawab oleh filsafat ilmu adalah yang berkenaan dengan :

a. Obyek telaah suatu ilmu.

b. Wujud hakiki obyek tersebut.

c. Hubungan antara obyek dan manusia yang membuah ilmu dan pengetahuan.

d. Cara memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang benar.

e. Penggunaan ilmu dan pengetahuan.

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas. Demkian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah dijangkau.

Manajemen mengandung tiga pengertian yaitu: pertama, manajemen sebagai proses, kedua manajemen sebagai kolektivitas, ketiga manajemen sebagai suatu seni (art) dan suatu ilmu.

Hal-hal yang bersifat khusus yang menjadi kajian keilmuan manajemen antara lain adalah: perencanaan, organisasi, penyusunan, pengarahan, pengawasan, dan manajemen sumberdaya manusia. Pengertian ketiga istilah tersebut di atas diuraikan sebagai berikut :

1). Manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Menurut Haiman, manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu dengan melalui kegiatan orang lain dan mengawasi uasaha-usaha individu untuk mencapai tujuan utama bersama. Selanjutnya menurut GR. Terry mengatakan bahwa manajeman adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. dari dua defenisi tersebut dapat disimplkan bahwa ada tiga pokok penting dalam defisi tersebut yaitu, pertama adanya tujuan yang ingin dicapai, kedua tujuan yang dicapai dengan mempergunakan kegiatan orang lain, dan ketiga kegiatan orang lain itu harus dibimbing dan diawasi.

2). Manajeman sebagai kolektivitas, orang-orang yang melakukan aktivitas manajeman. Jadi setiap orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajeman. Dalam arti tunggal disebut manejer. Manejer adalah pejabat yan bertanggung jawab atas terselenggaranya aktivitas-aktivtas manajemen agar tujuan unit pimpinannya tercapai dengan menggunakan bantuan orang lain.

3). Manajemen sebagai suatu seni dan ilmu, manajemen sebagai seni berfungsi untuk mencapai tujuan yang nyata mendatangkan hasil atau manfaat, sedangkan manajeman sebagi ilmu berfungsi menerangkan fenomena-fenomena, kejadian-kejadian, kedaan-keadaan. Jadi memberikan penjelasan-penjelasan.

PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang bagaimana manajemen dari sudut ontologi, epistemologi dan aksiologi filsafat.

1. Ontologi

Ontologi kadang-kadang disamakan dengan metafisika. Istilah metafisika itu pertama kali dipakai oleh Andronicus dari Rhodesia pada zaman 70 tahun sebelum Masehi. Artinya adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat supra-fisis atau kerangka penjelasan yang menerobos melampaui pemikiran biasa yang memang sangat terbatas atau kurang memadai. Makna lain istilah metafisika adalah ilmu yang menyelidiki kakikat apa yang ada dibalik alam nyata. Jadi, metafisika berati ilmu hakikat. Ontologi pun berarti ilmu hakikat.

Yang dimasalahkan oleh ontologi dalam ilmu Manajemen adalah siapa yang membutuhkan manajeman?. Pertanyaan ini sering dijawab perusahaan (bisnis), tentu saja benar sebagian tetapi tidak lengkap karena manajeman juga dibutuhkan untuk semua tipe kegiatan yang diorganisasi dan dalam semua tipe organiasasi. Dalam pratik menajemen dibutuhkan dimana saja orang-orang bekeja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Dilain pihak setiap manusia dalam perjalanan hidupnya selalu akan menjadi anggota dari beberapa macam organisasi, seperti organisasi sekolah, perkumpulan olah raga, kelompok musik, militer atau pun organisasi perusahaan. Organisasi-organisasi ini mempunyai persamaan dasar walaupun dapat berbeda satu dengan yang lain dalam beberapa hal, seperti contoh organisasi perusahaan atau departemen pemerintah dikelola secara lebih formal dibanding kelompok musik atau rukun tetangga. Persamaan ini tercermin pada fungsi-fungsi manejerial yang dijalankan.

2. Epistemologi

Istilah epistemologi ini pertama kali digunakan oleh J.F. Ferrier pada tahun 1854 dalam bukunya yang berjudul Institute of Metaphysics. Menurut sarjana tersebut ada dua cabang dalam filsafat, ialah: epistemologi dan ontologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori. Jadi, dengan istilah itu nyang dimaksud adalah penyelidikan asal mula pengetahuan atau strukturnya, metodenya, dan validitasnya.

Ruang lingkup epistemologi pada Manajemen dapat dilihat dalam kaitannya dengan sejumlah disiplin ilmu yang bisa ”kerja sama” seperti: pendidikan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Namun ruang lingkup itu mengalami perkembangan, sehingga pada setiap era terdapat lingkup yang khusus dalam epistemologi itu. Ruang lingkup yang khusus bisa terjadi pada disiplin ilmu manajemen itu sendiri sehingga melahirkan spesialisasi pengkajiannya. Di antara spesialisasi itu adalah :

a. Manajeman pendidikan

b. Manajeman sumberdaya manusia

c. Manajemen keuangan

d. Manajemen personalia

e. Manajemen produksi, dan lain sebagainya

Semula epistemologi ini mempermasalahkan kemungkinan yang mendasar mengenai pengetahuan (very possibilityof knowledge). Apakah pengetahuan yang paling murni dapat dicapai.

Permasalahan epistemologi di ilmu manajemen berkisar pada ihwal proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu: bagaimana prosedurnya, apa yang harus diperhatikan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, apakah yang disebut kebenaran dan apa saja kriterianya, serta sarana apa yang membantu orang mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu.

Jawaban-jawaban yang dibutuhkan untuk memenuhi pertanyaan tersebut di manajemen sudah sedemikian rupa diberlakukan bagi para ilmuwan itu sendiri. Prosedur dengan pendekatan metode ilmiah adalah prosedur baku untuk menelaah manajemen.

Cara pencarian kebenaran yang dipandang ilmiah ialah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adalah hasrat ingin tahu pada manusia dalam taraf keilmuannya. Penyaluran sampai taraf setinggi ini disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, dan bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah. Penelitian adalah suatu proses yang terjadi dari suatu rangkaian langkah yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk mendapatkan jawaban sejumlah pertanyaan.

Pada setiap penelitian ilmiah melekat ciri-ciri umum, yaitu : pelaksanaannya yang metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang logik dan koheren. Artinya dituntut adanya sistem dalam metode maupun dalam hasilnya. Jadi susunannya logis. Ciri lainnya adalah universalitas. Bertalian dengan universalitas ini adalah objektivitas. Setiap penelitian ilmiah harus objektif artinya terpimpin oleh objek dan tidak mengalami distorsi karena adanya berbagai prasangka subyektif. Agar penelitian ilmiah dijamin objektivitasya, tuntutan intersubjektivias perlu dipenuhi.

3. Aksiologi

Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios yang berarti `memiliki harga ’mempunyai nilai’, dan logos yang bermakna `teori` atau `penalaran Sebagai suatu istilah, aksiologi mempunyai arti sebagai teori tentang nilai yang diinginkan atau teori tentang nilai yang baik dan dipilih. Teori ini berkembang sejak jaman Plato dalam hubungannya dengan pembahasan mengenai bentuk atau ide (ide tentang kebaikan).

Permasalahan aksiologi ilmu manajemen (1) sifat nilai, (2) tipe nilai, (3) kriteria nilai, dan (4) status metafisika nilai. Masing-masing dicoba untuk dijelaskan dengan ringkas sebagai berikut.

Sifat nilai atau paras nilai didukung oleh pengertian tentang pemenuhan hasrat, kesenangan, kepuasan, minat, kemauan rasional yang murni, serta persepsi mental yang erat sebagai pertalian antara sesuatu sebagai sarana untuk menuju ke titik akhir atau menuju kepada tercapainya hasil yang sebenarnya. Di dalam mengkaji Manajemen berkecimpung tentunya dilandasi dengan hasrat untuk mendapatkan kepuasan.

Perihal tipe nilai didapat informasi bahwa ada nilai intrinsik dan ada nilai instrumental. Nilai intrinsik ialah nilai konsumatoris atau yang melekat pada diri sesuatu sebagai bobot martabat diri (prized for their own sake). Yang tergolong ke dalam nilai instrinsik adalah kebaikan dari segi moral, kecantikan, keindahan, dan kemurnian. Nilai instrumental adalah nilai penunjang yang menyebabkan sesuatu memiliki nilai instrinsik.

Penerapan tipe nilai bagi manajemen diarahkan manajemen sebagai profesi. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengklasifikasikan manajemen sebagai profesi, kriteria-kriteria untuk menentukan sesuatu sebagai profesi yang dapat diperinci sebagai berikut:

1). Para profesional membuat keputusan atas dasar prinsip-prinsip umum. Adanya pendidikan kursus-kursusan program-program latihan formal menunjukan bahwa ada pinsip-prinsip manajemen tertentu yang dapat diandalkan

2). Para profesional mendapatkan status mereka karena mencapai standar prestasi kerja tertentu, bukan karena favoritisme atau karena suku bangsa atau agamanya

3). Para profesional harus ditentukan oleh suatu kode etik yang kuat, dengan disiplin untuk mereka yang menjadi klienya.

Manajeman telah berkembang menjadi bidang yang semakin profesional melalui perkembangan yang mencolok program-program latihan manajemen di Universitas-universitas ataupun lambaga-lembaga manajemen swasta dan melalui pengembangan para eksekutif organisasi atau perusahaan.

PENUTUP

Filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Filsafat menjadi sumber dari segala kegiatan manusia atau mewarnai semua aktivitas warga negara dari suatu bangsa. Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekola dasar pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi, berfilsafat tentang ilmu berarti berterus-terang kepada diri sendiri. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empriris.

Ontologi disamakan dengan metafisika, itu pertama kali dipakai oleh Andronicus dari Rhodesia pada zaman 70 tahun sebelum Masehi. Artinya adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat supra-fisis atau kerangka penjelasan yang menerobos melampaui pemikiran biasa yang memang sangat terbatas atau kurang memadai.

Epistemologi pertama kali digunakan oleh J.F. Ferrier pada tahun 1854 dalam bukunya yang berjudul Institute of Metaphysics. Menurut sarjana tersebut ada dua cabang dalam filsafat, ialah: epistemologi dan ontologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori. Jadi, dengan istilah itu nyang dimaksud adalah penyelidikan asal mula pengetahuan atau strukturnya, metodenya, dan validitasnya.

Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios yang berarti `memiliki harga, `mempunyai nilai`, dan logos yang bermakna `teori` atau `penalaran`, artinya sebagai teori tentang nilai yang diinginkan atau teori tentang nilai yang baik dan dipilih. Teori ini berkembang sejak jaman Plato dalam hubungannya dengan pembahasan mengenai bentuk atau ide (ide tentang kebaikan).

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Noor Ms. 2001. Logika Praktis Dasar Filsafat dan Sarana Ilmu. Yogyakarta : Penerbit Liberty.

Bucaille, Maurice. 1994. Asal-usul Manusia. Bandung : Mizan

Handoko, T, Hani, 2003, Manajemen : Edisi 2, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta

Manullang, M, 1999, Dasar-dasar Manajemen, Jakarta : Ghalia Indodesia

Sukra, Yuhara. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio : Benih Masa Depan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Suriasumantri, Jujun S. 1999. Filsafat Ilmu. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Pidarta Made, 1997, Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan bercorak Indonesia, Jakarta, PT. Rineka Cipta

PENDAHULUAN

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu sedangkan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah diangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekola dasar pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi, berfilsafat tentang ilmu berarti terus terang kepada diri sendiri. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.

Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.

Sedangkan pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari dari induknya. Pada awalnya pendidikan berada bersama dengan filsafat, sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.

PEMBAHASAN

A. PENDIDIKAN

Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan.

Secara garis besar pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi tiga yaitu: a). pendidikan, b). teori umum pendidikan, dan c). ilmu pendidikan.

Pengertian pertama, pendidikan pada umumnya yaitu mendidik yang dilakukan oleh masyarkat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi ini. Pada zaman purba, kebanyakan manusia memerlukan anak-anaknya secara insting atau naluri, suatu sifat pembawaan, demi kelangsungan hidup keturunanya. Yang termasuk insting manusia antara lain sikaf melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kempuan menyusu air susu ibu dan merasakan kehangatan dekapan ibu.

Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia. Mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai kepada perkembangan iman. Mendidik bermaksud membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi berbudaya. Mendidik adalah membudayakan manusia.

Kedua, pendidikan dalam teori umum, menurut John Dewey pendidikan itu adalah The general theory of education dan Philoshophy is the general theory of education, dan dia tidak membedakan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan, atau filsafat pendidikan sama dengan teri pendidikan. Sebab itu ia mengatakan pendidikan adalah teori umum pendidikan.

Konsep di atas bersumber dari filsafat pragmatis atau filsafat pendidikan progresif, inti filsafat pragmatis yang mana berguna bagi manusia itulah yang benar, sedangkan inti filsafat pendidikan progresif mencari terus-menerus sesuatu yang paling berguna hidup dan kehidupan manusia.

Ketiga, ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah cabang ilmu yang terkait satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan. Masing-masing cabang ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah teori.

B. FILSAFAT

Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni dan lain-lainnya.

Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja, sesungguhnya isi alam yang dapat dinikmati hanya sebagian kecil saja. Misalnya mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan di laut saja. Sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba sesuatu yang ada dipikiran dan renungan yang kritis.

Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu: metafisiska, epistemologi, logika, dan etika, dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut :

1). Metafisika adalah filsafat yang meninjau tentang hakekat segala sesuatu yang terdapat dialam ini. Dalam kaitannya dengan manusia, ada dua pandangan menurut Callahan (1983) yaitu :

a. Manusia pada hakekatnya adalah spritual. Yang ada adalah jiwa tau roh, yang lain adalah semu. Pendidikan berkewajiban membebaskan jwa dari ikatan semu. Pendidikan adalah untuk mengaktualisasikan diri, pandangan ini dianut oleh kaum Idealis, Scholastik, dan beberapa Realis.

b. Manusia adalah organisme materi.Pandangan ini dianut kaum Naturalis, Materialis, Eksprementalis, Pragmatis, dan beberapa Realis. Pendidikan adalah untuk hidup. Pendidikan berkewajiban membuat kehidupan menusia menjadi menyenangkan.

2). Epistemologi adalah filfat yang membahas tentang pergaulan dan kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai beikut :

a. ada lima sumber pengetahuan yaitu:

(1). Otoritas, yang terdapat dalam ensiklopedia, buku teks yang baik, rums dan tabel.

(2). Comman sense yang ada pada adat dan tradisi

(3). Intuisi yang berkaitan dengan perasaan

(4). Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengelaman

(5).Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.

b. ada empat teori kebenaran yaitu:

(1). Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsesten dengan kebenaan umum.

(2). Koresponden, sesuatu akan benar bila ia dengan tepat dengan fakta yang jelas.

(3). Pragmatisme, sesuatu dipandang benar bila konsekuensinya memberi manfaat bagi kehidupan.

(4). Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap.

3). Logika adalah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar. Dengan memahami filsafat logika diharapkan manusia bisa berpikir dan mengemukakan penadapatnya secara tepat.

4). Etika adalah filsafat yang menguaraikan tentang perilaku manusia, Nilai dan norma masyarakat serta ajaran agama menjadi pokok pemikiran dalam filsafat ini. Filsafat etika sangat besar mempengaruhi pendidikan sebab tujuan pendidikan untuk mengembangan perilaku manusia, anatara lain afeksi peserta didik.

Junjun (1981) membagi proses perkembangan ilmu menjadi dua bagian yang seling berkaitan satu dengan yang lain. Tingkat proses perkembangan yang dimaksud adalah:

1). Tingkat empiris adalah ilmu yang baru ditemukan di lapangan. Ilmu yang masih berdiri sendiri, baru sedikit bertautan dengan penemuan yang lain sejenis. Pada tingkat ini wujud ilmu belum utuh, masing-masing sesuai dengan misi penemuannya karena belum lengkap.

2). Tingkat penjelasan atau teoretis, adalah ilmu yang sudah mengembangkan suatu struktur teoretis. Dengan struktur ini ilmu-ilmu emperis yang masih terpisah-pisah itu dicari kaitannya satu dengan yang lain dan dijelaskan sifat kaitan itu. Dengan cara ini struktur berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu empiris itu menjadi suatu pola yang berarti.

Dari uraian di atas kita sudah berkenalan dengan ilmu empiris berupa simpulan-simpulan penelitian dan konsep-konsep serta ilmu teoretis dalam bentuk teori-teori atau grand theory-grand theory.

Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan lahir dari induknya filsafat. Sejalandengan proses perkembangan ilmu ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada awalnya pendidikan bersama dengan filsafat sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.

C. HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

D. FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan. Ada sejumlah filsafat pendidikan yang dianut oleh bangsa-bangsa di dunia, namun demikian semua filsafat itu akan menjawab tiga pertanyaan pokok sebagai berikut:

1). Apakah pendidikan itu?

2). Apa yang hendak dicapai?

3). Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan itu?

Masing-masing pertanyaan ini dapat dirinci lebih lanjut. Berbagai pertanyaan yang bertalian dengan apakah pendidikan itu, antara lain :

1). Bagaimana sifat pendidikan itu?

2). Apakah pendidikan itu merupakan sosialisasi?

3). Apakah pendidikan itu sebagai pengembangan individu?

4). Bagaimana mendefinisikan pendidikan itu ?

5). Apakah pendidikan itu berperan penting dalam membina perkembangan atau mengarahkan perkembangan siswa?

6). Apakah perlu membedakan pendidikan teori dengan pendidikan praktek?

Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang hendak dicapai oleh pendidikan, antara lain :

1). Beberapa proporsi pendidikan yang bersifat umum?

2). Beberapa proporsi pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu?

3). Apakah peserta didik diperbolehkan berkembang bebas?

4). Apakah perkembangan peserta didik diarahkan ke nilai tertentu?

5). Bagaimana sifat manusia?

6). Dapatkah manusia diperbaiki?

7). Apakah manusia itu sama atau unik?

8). Apakah ilmu dan teknologi satu-satunya kebenaran utama dalam era globalisasi?

9). Apakah tidak ada kebenaran lain yang dapat dianut pada perkembangan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan cara terbaik merealiasi tujuan pendidikan, anatara lain ?

1). Apakah pendidikan harus berpusat pada mata pelajaran atau peserta didik?

2). Apakah kurikulum ditentukan lebih dahulu atau berupa pilihan bebas?

3). Ataukah peserta didik menentukan kurikulumnya sendiri?

4). Apakah lembaga pendidikan permanen atau bersifat tentatif?

5). Apakah proses pendidikan berbaur pada masyarakat yang sedang berubah cepat?

6). Apakah diperlukan kondisi-kondisi tertentu dalam membina perkembangan anak?

7). Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam mendidik anak-anak?

8). Perkembangan apa saja yang diperlukan dalam proses pendidikan?

9). Apakah dperlukan nilai-nilai penuntun dalam proses pendidikan?

10). Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu, otoriter, primitif, atau

demokratis?

11). Belajar menekan prestasi atau terpusat pada pengembangan cara belajar dan kepuasan akan hasil belajar?

Menurut Zanti Arbi (1988) Filsafat Pendidikan adalah sebagai berikut.

1). Menginspirasikan

2). Menganalisis

3). Mempreskriptifkan

4). Menginvestigasi

Maksud menginsparasikan adalah memberin insparasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof memaparkan idennya bagaimana pendidika itu, kemana diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. Sudah tentu ide-ide ini didasari oleh asumsi-asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan, dan negara.

Sementara itu yang dimaksud dengan menganalisis dalam filsafat pendidikan adalah memeriksa teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancan, umpang tindih, serta arah yang simpang siur. Dengan demkian ide-ide yang komplek bisa dijernihkan terlebih dahulu, tujuan pendidikan yang jelas, dan alat-alatnya juga dapat ditentukan dengan tepat.

Francis Bacon dalam bukunya The Advencement of Leraning mengemukakan tesis bahwa kebanyakan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia mengandung unsur-unsur valitditas yang bermanfaat dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari, bila pengetahuan itu berisikan dari salah satu konsep yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bacon menggunakan logika induktif sebagai teknik krisis atau analisis untuk menemukan arti pendidikan yang dapat diandalkan. Melalui pengalaman secara kritis dengan logika induktif akan dapat ditemukan konsep-konsep pendidikan.

Mempreskriptifkan dalam filsafat pendidikan adalah upaya mejelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang jelaskan bisa berupa hakekat manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut dikembangkan; proses perkembangan itu sendiri, batas-batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas , target-target pendidikan bila dipandang perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak-anak.

Johann Herbart dalam bukunya Scence of education menginginkan agar guru mempunyai informasi yang dapat dihandalkan mengenai tujuan pendidikan yang dapat dicapai dan proses belajar sebelum guru ini memasuki kelas. Pondasi pendidikan yang dikontruksi di atas asumsi yang disangsikan kebenarannya atau di atas tradisi yang masih kabur perlu segera diganti dengan informasi-informasi yang valid. Suatu informasi yang direkonstruksi dari atau secara ilmiah.

Yang dimaksud menginvestigasi dalam filsafat pendidikan adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan. Pendidikan tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatau konsep atau teori pendidikan untuk dipraktikan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep pendidikan di lapangan atau melalui penelitian-penelitian. Untuk sementara filsafat pendidikan bisa dipakai latar pengetahuan saja. Selanjutnya setelah pendidik berhasil menemukan konsep, barulah filsafat pendidikan dimanfaatkan untuk mengevaluasinya, atau sebagai pembanding, untuk kemungkinan sebagai bahan merevisi, agar konsep pendidikan itu menjadi lebih mantap.

John Dewey dalam bukunya Democracy and Education menyatakan bahwa pengelaman adalah tes terakhir dari segala hal. Mereka memandang pengalaman sebagai panji-panji semua filsafat pendidikan yang mempunyai komitmen terhadap inquiry atau penyelidik. Filosfo berfungsi memilih pengalaman-pengalaman yang cocok untuk memanjukan efisiensi sosial. Filsafat pendidikan berusaha menafsirkan proses belajar-mengajar menurut prosedur pengujian ilmiah dan kemudian memberi komentar tentang nilai atau kemanfaatannya. Filsafat pendidikan mencari konsekuensi proses belajar mengajar, apa yang telah dilakukan, apa kelemahannya, dan bagaimana cara mengatasi kelemahan itu

Para filosof, melalui filsafat pendidikannya, berusaha menggali ide-ide baru tentang pendidikan, yang menurut pendapatnya lebih tepat ditinjau dari kewajaran keberadaan peserta didik dan pendidik maupun ditinjau dari latar gografis, sosologis, dan budaya suatu bangsa. Dari sudut pandang keberadaan manusia akan menimbulkan aliran Perennialis, Realis, Empiris, Naturalis, dan Eksistensialis. Sedangkan dari sudut geografis, sosiologis, dan budaya akan menimbulkan aliran Esensialis, Tradisionalis, Progresivis, dan Rekontruksionis.

Berbagai aliran filafat pendidikan tersebut di atas, memberikan dampak terciptanya konsep-konsep atau teori-teori pendidikan yang beragam. Masing-masing konsep akan mendukung filsafat pendidikan itu. Dalam membangun teori-teori pendidikan, filsafat pendidikan juga mengingatkan agar teori-teori itu diwujudkan diatas ebenaran berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Dengan kata lain, teori-teori pendidikan harus disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah.

Beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia adalah sebagai berikut :

1). Esensialis

2). Perenialis

3). Progresivis

4). Rekonstruksionis

5). Eksistensialisi

Filsafat pendidikan Esesialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran esensial itu adalah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin dikenal dengan nama Great Book.

Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika. Dengan mempelajari kebudayaan Yunani-Romawi yang menggunakan bahasa latin yang sulit itu, diyakini otak peserta didik akan terarah dengan baik dan logikanya akan berkembang. Disiplin sangat diperhatikan, pelajaran dibuat sangat berstruktur, dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan, yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga mempercepat kebiasaan berpikir efektif, pengajaran terpusat pada guru.

Filsafat pendidikan Perenialis bahwa kebenaran pada wahyu Tuhan. Tentang bagaimana cara menumbuhkan kebenaran itu pada diri peserta didik dalam proses belajar mengajar tidaklah jauh berbeda antara esensialis dengan peenialis. Proses pendidikan meraka sama-sama tradisional.

Filsafat pendidikan Progresivis mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini tidak ada tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relatif, apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaan adalah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini.

Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam pendidikan adalah mengembangan peserta didik untuk bisa berpikir, yaitu bagaimana berpikir yang baik. Hal ini bisa tercapai melalui metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi pusat pada anak. Untuk mempercepat proses perkembangan mereka juga menekankan prinsip mendisiplin diri sendiri, sosialisasi, dan demokratisasi. Perbedaan-perbedaan individual juga sangat mereka perhatikan dalam pendidikan.

Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakan variasi dari Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Meraka bercita-cita mengkonstuksi kembali kehidupan manusia secara total. Semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru aliran yang ektrim. Ini berupaya merombak tata susunan kehidupan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru sekali, melalui lembaga dan proses pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu bertalian dengan pendidikan tidak banyak berbeda dengan aliran Progresivis.

Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adala eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia didunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas, akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan komitmennya sendiri. (Callahan, 1983)

Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberikesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangkan pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan mengembangkan komitmen diri sendiri. Materi pelajaran harus memberikesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan sendiri, baik dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kebutuhan manusia. Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual mereka. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar langsung.

PENUTUP

Filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Filsafat menjadi sumber dari segala kegiatan manusia atau mewarnai semua aktivitas warga negara dari suatu bangsa.

Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam lingkungan masyarakat dan lingkungan. Ilmu pendidikan yaitu menyelidiki, merenungi tentang gejala-gejalan perbuatan mendidik.

Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan. Filsafat pendidikan dijabarkan dari filsafat, artinya filsafat Pendidikan tidak bolah bertentangan dengan filsafat.

DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, S. Jujun. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan

Purwanto, Ngalim. M. 2003. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya

Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan bercorak Indonesia, Jakarta, PT. Rineka Cipta.

Mengangkat dan Mengembangkan Kembali Nilai-nilai Luhur Yang Terkandung Dalam Falsafah “Budaya Betang” Budaya Suku Dayak Ngaju Pada Kehidupan Modern

Latar Belakang

Sejak lebih dari 1500 tahun yang lalu kehidupan nenek moyang masyarakat Dayak yang datang ke Pulau Kalimantan merupakan masyarakat yang telah memiliki budaya yang tinggi. Namun dalam perkembangannya ditanah yang baru (Kalimantan Tengah sekarang) kebudayaan mereka tidak berkembang bahkan cenderung mengalami kemunduran.
Dalam kurun waktu sebelum Perdamaian Tumbang Anoi pada tahun 1894 masyarakat Dayak bermukin terpisah-pisah di perkampungan-perkampungan yang tersebar disepanjang tepi sungai. Sesuai dengan kebutuhannya untuk tempat tinggal dibangun rumah panjang yang disebut “Betang” tersebut. Apabila diperkampungan dirasakan sebuah betang tidak mencukupi, maka atas mufakat bersama dibangun Betang baru. Betang sebagai tempat hunian bersama diwilayah pedalaman Kalimantan Tengah, masih bertahan sampai abad ke-XIX (KMA.M.Usop, 1993)
Dalam betang sebuah hunian baik untuk seluruh atau sebagian warga perkampungan ikut bertumbuh kembang kebudayaan, adat-istiadat dan hukum adat masyarakat Dayak. Warga Betang dipimpin oleh kepala Betang dibantu oleh perangkat organisasi dilingkungan Betang tersebut sebagai suatu perkampungan. Berbagai hal menyangkut kepentingan bersama dibahas melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
Seiring dengan perkembangan zaman lebih-lebih dampak dari masuknya kebudayaan dari luar, maka Betang sebagai tempat hunian bersama menjadi kurang menarik dan makin lama makin ditinggalkan. Arus kehidupan modern yang lebih bersifat individualistis serta pengaruh berkembangnya pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, secara perlahan dan pasti Betang sebagai bentuk tempat hunian bersama tidak dipertahankan lagi. Betang-betang yang masih ada hingga saat ini merupakan sisa-sisa Betang yang dibangun pada abad XIX atau sebelumnya. Oleh pemerintah dan masyarakat Betang yang masih utuh dipugar kembali dan dijadikan sebagai obyek wisata.
Meskipun demikian, dewasa ini kembali disadari bahwa kearifan dan kebijakan yang diterapkan oleh Kepala Betang masa lampau beserta organisasi perangkatnya ternyata memiliki nilai budaya yang luhur dan tinggi. Nenek moyang kita telah mewariskan suatu pandangan hidup yang mampu bertahan sepanjang masa. Banyak tokoh masyarakat dan budayawan daerah berpandangan adalah menjadi kewajiban bersama untuk mengangkat, menghidupkan kembali serta melestarikan aspek-aspek budaya dan nilai-nilai luhur dalam masyarakat Betang menjadi suatu falsafah hidup yang disebut falsafah Budaya Betang.
Motto “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” mempunyai makna bahwa setiap warga pendatang baru wajib menghormati budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Falsafah Budaya Betang dimaksudkan sebagai pedoman yang mengatur pergaulan hidup antar sesama warga masyarakat yang bersifat rukun dan damai, toleransi tinggi diantara sesama warga atau kelompok masyarakat yang berbeda. Konflik etnis yang telah terjadi adalah merupakan akibat dari tidak di-pedomaninya motto “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” sehingga budaya dan adat istiadat masyarakat Dayak selaku penduduk asli kurang dihormati atau diabaikan.
Tidak dipungkiri bahwa masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah adalah masyarakat yang mempunyai akar budaya sendiri, mempunyai adat-isitadat yang dihormati dan menjadi pedoman sikap dan perilaku dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Sekilas Tentang Suku Bangsa Dan Bahasa Dayak Ngaju
1. Nenek Moyang Suku Dayak Ngaju; Kedatangan dan Penyebarannya
Berdasarkan laporan para ahli antropologi, sesungguhnya suku bangsa Dayak yang mendiami pulau Kalimantan (dahulu disebut Borneo) bukan benar-benar penduduk asli. Penduduk asli pulau Borneo yang pertama adalah dengan ciri fisik rambut hitam keriting, kulit hitam, hidung pesek dan tinggi badan rata-rata 120-130 cm. Mereka digolongkan kedalam suku bangsa negrito sebagaimana yang masih tersisa dalam kelompok kecil di Malaysia Utara.
Dipulau Kalimantan (Borneo) kelompok suku bangsa negrito ini diduga telah musnah setelah datangnya suku bangsa baru yang berimigrasi dari benua Asia sebelah timur, yaitu dari China.
Menurut para ahli Ethnologi, di Asia pada awal-awal abad masehi, pernah terjadi 2 (dua) kali perpindahan bangsa-bangsa. Yang pertama terjadi pada abad ke-II dan yang kedua terjadi pada abad ke-IV. Suku bangsa yang datang dan akhirnya mendiami pulau Kalimantan (Borneo) sebagian besar datang pada perpindahan bangsa yang kedua, yaitu pada abad ke-IV. (Koentjaraningrat, 1979)
Terjadinya perpindahan bangsa-bangsa tersebut dilakukan untuk menghindari dari kekejaman suku bangsa Tar-tar dari utara yang terjadi sejak jamannya Jenghis Khan.
Kelompok bangsa-bangsa yang berpindah itulah yang menjadi cikal-bakal terbentuknya bangsa baru seperti Bangsa Jepang, Taiwan, Philipina dan sebagian suku bangsa di Indonesia, antara lain suku bangsa di manado/gorontalo/toraja di sulawesi ; suku-suku di riau kepulauan, suku batak/suku nias di sumatera ; serta suku Dayak di pulau Kalimantan (Borneo) (Ilo, 1989). Jika demikian timbul pertanyaan :
a. Termasuk rumpun bangsa manakah orang / suku Dayak itu?
b. Darimanakah mereka berasal?
c. Mengapa mereka disebut suku Dayak?

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, nenek moyang orang / suku Dayak berasal dari wilayah pegunungan Yunan bagian selatan berbatasan dengan Vietnam sekarang. Kelompok migran yang masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang dan menjadi nenek moyang bagi sebagian besar orang / suku Dayak di Kalimantan Tengah merupakan bagian dari perpindahan bangsa-bangsa yang ke-2 pada abad ke-IV.
Diduga mereka masuk ke Kalimantan Tengah melalui sedikitnya 3 koridor yaitu :
a. Koridor dari Kalimantan Barat menyusuri sungai Kapuas sehingga akhirnya menyebrangi / melintas pegunungan Schwaner.
b. Koridor I daru Kalimantan Timur melalui kabupaten Kutai Barat sekarang.
c. Koridor II dari Kalimantan Timur melalui kabupaten Pasir sekarang.
(Musni Umberan, 1984)
Dalam buku “Maneser Panatau Tatu Hiang”; menyelami kekayaan leluhur yang disusun oleh Dra. Nila Riwut, 2003 tentang “Asal Usul Bangsa Suku Dayak’, dikemukakan adanya pendapat orang lain yang menyebutkan bahwa suku Dayak berasal dari Proto Melayu / Melayu tua.
Pendapat tersebut di atas sangat spekulatif dan kurang beralasan. Pegunungan Yunan letaknya di wilayah Cina barat laut. Ras melayu jelas tidak berasal dari benua asia timur tersebut. Nenek orang Dayak Kalimantan Tengah jelas menyebar dari sebelah utara yaitu dari daerah hulu sungai. Penyebarannya terbalik bukan dari muara sungai di sebelah selatan Kalimantan Tengah melainkan menyebar dari arah utara dan dari arah timur, artinya justru menyebar dari arah hulu sungai.
Dengan demikian asal usul orang Dayak dapat disimpulkan bukan dari ras melayu melainkan lebih tepat dari Ras Neo Mongolik. Berpindahnya nenek moyang suku Dayak dari daerah asal (Pegunungan Yunan) dapat dipastikan telah mempunyai kebudayaan yang tinggi. Hal tersebut dibuktikan bahwa mereka telah memiliki kemampuan navigasi yang memungkinkan mereka berlayar menyeberangi laut Cina selatan. Ditempat yang baru mereka telah mampu mengenal batu-batuan yang mengandung bijih besi, memproses besi menggunakan tanur yang dibuatnya sendiri. Hasil besi yang diproses itu disebut dengan “Sanaman Mantikei” atau besi mantikei yang terkenal sangat kuat.
Masih menjadi perdebatan apakah yang dimaksud dengan Dayak? Ini dikarenakan suku-suku yang mendiami pulau borneo (Kalimantan) secara umum disebut suku Dayak. Tanpa menyalahkan pendapat-pendapat sebagaimana yang diungkapkan dalam buku “Maneser Panatau Tatu Hiang” berikut ini dikemukakan versi lain tentang apakah arti Dayak itu.
Pada zaman sebelum kemerdekaan sampai beberapa tahun awal kemerdekaan, disekolah-sekolah setingkat SD kelas 5-6 dan tingkat SLTP serta SLTA, khususnya untuk mata pelajaran Ilmu Bumi menggunakan buku atlas yang diadakan oleh Pemerintah. Khusus pada peta Pulau Kalimantan untuk menunjukan nama-nama sungai tertulis antara lain:
Dayak Kapuas (Besar), Dayak Ketapang, Dayak Lamandau, Dayak Arut, Dayak Kumai, Dayak Seruyan, Dayak Pembuang, Dayak Sampit, Dayak Mentaya, Dayak Sebangau Besar, Dayak Sebangau Kecil, Dayak Kahayan, Dayak Kapuas (kecil), Dayak Murung, Dayak Barito, Dayak Mahakam, Dayau Berau, dll.
Dengan demikian yang dimaksud dengan Dayak adalah sungai. Kata Dayak yang artinya sungai tersebut terdapat pada salah satu anak Suku Benuaq di Kalimantan Timur serta bahasa suku (lokal) di Kalimantan Barat dan Serawak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa suku bangsa yang mendiami pulau Borneo diberikan nama suku bangsa Dayak yang artinya suku bangsa yang bermukim di sepanjang tepi sungai. (Musni Umberan, 1994)
Menurut Cilik Riwut dalam bukunya “Kalimantan Memanggil” (1958) Suku Dayak Ngaju merupakan Suku-Induk terbagi atas 4 (empat) Suku Besar, yaitu:
1. Suku Ngaju dengan 50 anak Suku
2. Suku Maanyan dengan 8 anak suku
3. Suku Lawangan dengan 21 anak suku
4. Suku Dusun dengan 24 anak suku

2. Bahasa Dayak Ngaju Sebagai Lingua Franca
Bahasa Ngaju dipergunakan komunikasi antar warga dari berbagai anak suku, disamping menggunakan bahasa Ibu masing-masing sebagai bahasa sehari-hari diwilayahnya. Sebaliknya mereka yang lahir dan dibesarkan dilingkungan Suku-Induk Dayak Ngaju, tidak mampu berbicara menggunakan bahasa-bahasa lokal anak-anak suku tersebut.
Dengan demikian bahasa Dayak Ngaju berfungsi hanya di Bahasa Pengantar atau Lingua Franca pada sebagian besar warga suku-suku kecil. Sebagian kecil lainnya, meskipun belum dapat berkomunikasi lisan, paling tidak mereka memahami apa yang diucapkan dalam bahasa Dayak Ngaju.
Hal yang unik dan perlu pengkajian lebih lanjut sejumlah kata-kata dalam Bahasa Dayak Ngaju banyak persamaannya dengan Bahasa Tagalog di Philipina, misalnya “ Kuman” yang artinya “Makan” serta nama-nama sejumlah binatang seperti “Langau” (Lalat), “Manuk” (Ayam), “Bawui/Babui” (Babi), “Pusa/Pus” (Kucing).
Dalam hal kesenian “Tari Kanjan Halu” pada Suku Dayak Ngaju sangat mirip dengan “Barong Dance” di Philipina dengan berbagai variasi gerakan yang diperkirakan sebagai pengaruh Dansa bangsa Spanyol dan / atau Amerika Serikat (Musni Umberan, 1994).

Peran Adat Istiadat Dalam Kehidupan Masyarakat

1. Peran Adat Istiadat Dalam Kehidupan Masyarakat
Menurut Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional (1994), Adat istiadat merupakan kebiasaan-kebiasaan yang diakui, dipatuhi dan dilembagakan serta dipertanggunjawabkan oleh masyarakat adat setempat secara turun temurun.
Adapun peran adat istiadat menjadi acuan interaksi tingkah laku antar sesama warga masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Tata Pergaulan Hidup Masyarakat
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak, adat-istiadat mengajarkan bahwa setiap orang harus “Belum Bahadat” artinya hidup beradat. Ketentuan Belum Bahadat tersebut berlaku bagi setiap insan warga masyarakat Dayak, yang diajarkan mulai dari anak-anak, masa remaja, masa akhil baliq/pemuda. Belum Bahadat juga dituntut kepada orang dewasa atau terhadap mereka baik yang terpelajar maupun yang kurang terpelajar, terhadap mereka yang kaya dan miskin maupun terhadap mereka yang berpangkat atau warga masyarakat biasa. Bagaimana peran adat-isitiadat dalam tata pergaulan masyarakat, antara lain:
1. 1 Adat isitiadat mengajarkan bahwa anak wajib hormat kepada ayah-ibu, kakek-nenek, atau kepada paman-bibi, dan anak muda wajib hormat kepada orang lain yang lebih tua.
1. 2 Adat istiadat mengajarkan kepada setiap orang terhadap mereka yang telah menikah dan telah mempunyai anak
1.3 Adat isitiadat mengajarkan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan harus saling hormat-menghormati
1.4 Adat istiadat mengajarkan tata cara bertamu atau menerima tamu
1.5 Habaring Hurung (tolong-menolong), Royong (bekerja bersama), Handep (Arisan kerja), acara manugal (pekerjaan menanam bibit diladang) dan haburuh (pembayaran upah kepada pekerja yang mengerjakan ladang)
1.6 Kepemilikan atas tanah
1.7 Perbuatan kriminal
(Biro Pemerintahan Desa Setda Prop. Kalteng, 2000)

b. Tata Pergaulan Muda-mudi
Meskipun prinsip-prinsip etika pergaulan muda-mudi tidak banyak berubah, namun perilaku pergaulan antara muda-mudi telah banyak berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan tingkat pendidikan.
1. Periode Perubahan Tata Cara Pergaulan Muda-mudi
a) Periode sampai dengan awal abad XX pergaulan dan frekwensi pertemuan antara muda-mudi secara langsung masih sangat terbatas. Terhadap anak gadis usia 12 tahun mulai dilakukan pengawasan ketat oleh orang tua, saudara-saudara dan kerabat dekat; bahkan untuk keluarga terpandang anak gadis seusia itu mulai dipingit.
b) Sejak Negara Republik Indonesia merdeka terutama mulai dekade 50-an generasi muda memperoleh kesempatan besar menempuh pendidikan yang lebih tinggi di Kuala Kapuas, Banjarmasin dan di Pulau Jawa, maka tata pergaulan dikalangan muda-mudi mengalami perubahan dan semakin terbuka. Sikap kaku dan kekangan dari orang tua makin lunak. Kalangan muda-mudi relatif lebih bebas untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Dalam hal perjodohan orang tua mulai tidak selalu memaksakan kehendak. Anak muda mulai diberikan kelonggaran untuk bergaul sepanjang masih dalam batas kesopanan dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan menurut adat isitiadat.
2. Batasan-batasan menurut Adat Istiadat
Meskipun dikalangan muda-mudi telah meraih “kebebasan” sebagaimana dimaksud diatas, adat-isitiadat tetap memberikan acuan sebagai berikut :
a) Adat isitiadat Suku Dayak Ngaju memandang bahwa aspek virginitas seorang gadis merupakan hal yang sangat penting dan harus dipertahankan.
b) Masyarakat Dayak Ngaju mempunyai pandangan bahwa hubungan seks bebas adalah tabu oleh karena itu tidak sesuai dengan adat-isitiadat
c) Kehamilan akibat hubungan seks bebas merupakan aib besar tidak hanya bagi sang gadis yang bersangkutan namun lebih-lebih kepada keluarga dan kerabat dekat.
d) Bilamana seorang gadis yang tidak bersuami ternyata hamil dan melahirkan anak, maka anak tersebut disebut “anak ampang” atau “anak sarau” dan tidak sesuai dengan adat-isitiadat, maka masyarakat sangat memandang rendah terhadap ibu dan anak tersebut.
e) Agar tidak menjadi aib dilingkungan keluarga, maka adat istiadat mengajarkan bahwa kepada setiap orang tua agar sejak dini memberikan pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti kepada anak-anak dalama keluarga, khususnya kepada anak gadis.
f) Adat isitiadat Suku Dayak Ngaju melarang keras terjadinya hubungan seks atau perkawinan antar laki-laki dan perempuan menurut silsilah tidak sederajat, yaitu missal antara yang berstatus paman dengan keponakan atau antara yang berstatus kakek dengan cucu, meskipun usia mereka segenerasi. Dalam bahsa Dayak Ngaju disebut “sala hurui”. Apabila itu terjadi itu adalah aib.
Falsafah hidup masyarakat Dayak Ngaju berpandangan bahwa peristiwa seperti itu disebut “dosa tulah”. Dosa Tulah akan menyebabkan terjadinya ketidak-seimbangan kosmos yang mengakibatkan malapetaka kepada manusia, binatang, dan alam sekitar.
Menghindari dampak buruk yang mungkin terjadi maka adat mewajibkan agar perkawinan tersebut dilaksanakan dengan upacara khusus dan hina yang disebut “kawin tulah” (KMA.M.Usop, 2001).
c. Perkawinan Menurut Adat
Menurut adat istiadat Dayak Ngaju, cara-cara perkawinan terbagi atas:
a. Perkawinan sesuai dengan ketentuan adat yang lazim
b. Perkawinan melalui cara yang tidak lazim
c. Perkawinan Tulah
(KMA.M.Usop, 2001)

Pandangan Adat Tentang Hubungan Antara Manusia Dengan Makhluk Lain Serta Lingkungan Alam Sekitar

Menurut Prof. KMA.M. Usop, MA dalam bukunya “Profil Kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah” (1995), Suku Dayak Ngaju mendiami wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit. Diwilayah pemerintah kota Palangka Raya dengan total jumlah penduduk 172.732 (statistik tahun 2002) diasumsikan sekitar 120.000 jiwa (±67%) adalah penduduk asli Suku Dayak Ngaju yang tersebar diseluruh wilayah seluas 240.000 hektar yang sebagian besar masih berupa hutan. Demikian pula diseluruh wilayah propinsi Kalimantan Tengah dengan luas 15.380.000 hektar hanya didiami oleh penduduk kurang dari 2 (dua) juta jiwa. Oleh karena itu dapat dipahami apabila pandangan hidup suku Dayak mempunyai keterkaitan yang kuat dengan makhluk binatang, tumbuh-tumbuhan serta lingkungan alam sekitarnya.
1. Hubungan Manusia dengan Binatang
Sama halnya dengan masyarakat lain, masyarakat Suku Dayak Ngaju juga memandang bahwa binatang adalah makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu adat istiadat Suku Dayak Ngaju mengajarkan tentang bagaimana manusia memperlakukan binatang.
Bagaimana pandangan masyarakat Dayak Ngaju tentang hubungan antara manusia dan binatang dijelaskan sebagai berikut:
Dalam kebudayaan Suku Dayak Ngaju beberapa jenis binatang memperoleh tempat istimewa, antara lain:
a) Burung Tingang merupakan lambing kemasyhuran dan keagungan
b) Burung Antang (elang) merupakan lamabang keberanian, kecerdikan serta kemampuan memberi petunjuk peruntunganbaik atau buruk.
Dalam acara ritual “Manenung atau acara ritual “manajah antang” untuk maksud mengetahui “dahiang baya”, maka burung Antang/elang digunakan sebagai mediator.
c) Burung Bakaka diyakini memberi petunjuk bagi pencari ikan apakah memperoleh banyak ikan atau tidak.
d) Burung Kalajalau (murai) dianggap sebagai burung milik dewa. Memperlakukan burung ini dengan semena-mena dapat membawa malapetaka.
e) Burung Tambalui, Kangkamiak dan Kulang-kulit sebagai burung hantu diyakini sebagai burung iblis.
f) Burung Bubut mampu memberikan informasi bahwa tidak lama lagi air sungai akan meluap atau terjadi banjir.
g) Tambun (ular besar/naga) melambangkan kearifan, kebijaksanaan dan kekuatan.
h) Buaya sering dianggap sebagai penjelmaan makhluk alam bawah (jatah)
i) Angui (bunglon) diyakini sebagai perwujudan saudara Ranying Hatala Langit yang bungsu (saudara nomor 7 dari Tuhan/dewa).
Dalam kehidupan masyarakat Dayak, adat melarang siapapun menganiaya binatang. Sebaliknya adat juga melarang manusia mempunyai hubungan berlebihan dengan binatang apalagi sampai terjadi manusia menyetubuhi binatang atau disetubuhi binatang. Apabila hal itu terjadi maka orang tersebut merupakan manusia terkutuk.

2. Hubungan antara Manusia dengan Tumbuh-tumbuhan dan Lingkungan Alam Sekitar
Adat istiadat Dayak Ngaju sangat memperhatikan terpeliharanya kelestarian alam. Hal ini sangat mewarnai bagaimana mereka memperlakukan lingkungan alam sekitarnya. Falsafah hidup masyarakat Dayak mempunyai pandangan bahwa manusia sebagai mikro-kosmos merupakan bagian dari makro-kosmos, sehingga dalam hidupnya manusia menyatu dengan alam. Oleh karena itu manusia dilarang merusak alam karena perbuatan demikian sebenarnya manusia merusak diri dan kehidupan itu sendiri.
Beberapa contoh kearifan tradisional tersebut adalah sebagai berikut:
2.1 Dalam bertani/berladang orang Dayak Ngaju telah mengatur penggarapan lahan dalam satu siklus.
2.2 Sejak dahulu kala nenek moyang masyarakat Dayak Ngaju setiap desa memelihara suatu kawasan terbatas hutan suaka alam yang disebut “Pahewan”.
2.3 Kearifan tradisional adat lainnya adalah apa yang disebut: Hak Ulayat dan Hutan Adat
2.4 Kemudian untuk menunjukkan bagaimana eratnya manusia dengan tumbuh-tumbuhan dan alam sekitar dapat diberikan contoh sbb:
a. pada umumnya orang Dayak mengetahui bahwa tidak lama lagi permukaan air sungai akan naik sampai suatu batas tertentu berdasarkan petunjuk tumbuhan suatu jenis cendawan kecil pada kayu lapuk atau dari munculnya akar baru pada pohon/dahan suatu jenis kayu yang tumbuh ditepi sungai.
b. Dalam menebang kayu untuk bahan bangunan, orang Dayak memahami kapan waktu terbaik pohon kayu ditebang sehingga nanti bahan bangunan dari kayu tersebut tidak mudah dimakan rayap
c. Orang-orang tua masyarakat Dayak dapat meramalkan bahwa dalam tahun tersebut akan terjadi kemarau panjang atau bukan melalui ramalan berdasarkan kedudukan bintang.
(KMA.M.Usop, 1995)

Pengaruh Hukum Adat dan Adat Istiadat Terhadap Pemerintah dan Masyarakat Kota Palangka Raya Kini dan Kedepan
1. Perkembangan Sebelum Tahun 1997
Banyak pihak menganggap bahwa adat istiadat merupakan sesuatu yang sudah kuno dan ketinggalan jaman. Kelompok tersebut berpendapat bahwa adat istiadat sudah tidak sesuai lagi dengan kehidupan masa kini sehingga tidak perlu dipertahankna lagi, apalagi dilestarikan.
Namun bagi mereka yang memiliki wawasan luas, pendapat tersebut terbantah oelh kenyataan bahwa Jepang sebagai Negara maju justru tetap mempertahankan serta melestarikan adat isitiadat bangsanya dalam kehidupan modern sekarang.
Di Indonesia pada beberapa daerah yang justru relatif maju dari daerah-daerah lainnya pengaruh adat istiadat dalam tata kehidupan masyarakat masih dominan, misalnya Propinsi Sumatera Barat, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta atau Propinsi Bali.
Pada masa pemerintahan orde baru dengan alasan mengedepankan budaya nasional, pengaruh serta perkembangan adat istiadat justru “dikebiri”. Banyak hal yang kental bernuansa lokal dianggap sebagai kuno atau ketinggalan zaman sehingga semakin disisihkan.
Ironisnya budaya dan adat istiadat yang disebarluaskan melalui pola semacam “indoktrinasi” pada zaman pemerintahan orde lama, bukan digali dari budaya setempat.
Masyarakat Dayak Ngaju dengan terpaksa menerima proses marginalisasi pada hampir semua kebijakan pembangunan yang bersifat sentralistik. Kalimantan Tengah selalu dikatakan sebagai tanah harapan, namun bersamaan dengan itu kebijakan yang diterapkan justru berakibat pada penjarahan sumber daya alam daerah secara tidak bertanggung jawab. Lembaga adat serta masyarakat Dayak Ngaju cukup puas dibangku penonton. Seiring dengan terpuruknya peranan Hukum Adat maka penghargaan kepada adat kebiasaan juga ikut memudar.
Dikota Palangka Raya kita menyaksikan semakin bertambah rumah tangga warga Dayak Ngaju dimana anak-anaknya tidak bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa ibu. Mudah-mudahan keadaan demikian bukan dilatar-belakangi oleh sikap rumah tangga baru warga suku Dayak yang ingin lebih cepat menghapus entitas ke-Dayak-an pada generasi anak-anaknya. Contoh lain yang sering ditemui bahwa dikalangan anak muda warga Dayak Ngaju di kota Palangka Raya dalam berkomunikasi dengan sesama rekannya (yang nota bene dari keluarga Dayak Ngaju juga) seolah-olah mereka lebih bangga menggunakan bahasa Banjar daripada bahasa ibu yaitu Bahasa Dayak Ngaju.
Dalam perkembangan akhir-akhir ini masa pemerintahan orde baru/reformasi terlihat adanya perhatian Pemerintah Pusat berkenaan dengan Pembinaan Lembaga Adat dan Masyarakat didaerah (Instruksi MENDAGRI Nomor 3 Tahun 1997 dan Peraturan Daerah Nomor 14 tahun 1998). Namun hal itu masih sebatas wacana tanpa ada aksi-tindak yang lebih konkrit dilapangan. Meskipun demikian, Pemerintah Kota Palangka Raya bersama-sama dengan warga masyarakat Dayak Ngaju diwilayah ini tetap menyadari bahwa kearifan tradisional yang berakar pada budaya dan adat memiliki nilai-nilai luhur yang pantas dilestarikan dan ditumbuh-kembangkan.
2. Pengaruh Adat Istiadat dalam Kehidupan Masyarakat Masa Kini
Meskipun dilanda oleh arus kehidupan modern serta pengaruh budaya daerah lain, dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan Kota Palangka Raya terlihat bahwa adat istiadat masih dipertahankan
Dikalangan warga masyarakat yang menganut agama Kaharingan/Hindu Kaharingan, pengaruh Adat-Istiadat masih sangat kental sehingga kadang-kadang sulit memilah-milah bagian mana yang merupakan ritual agama (Aspek Theologis) serta bagian mana yang merupakan acara adat (Aspek Sosiologis).
Sedangkan dikalangan warga yang menganut Agama Islam, hanya sedikit saja keluarga dari masyarakat Dayak Ngaju yang memeluk Agama Islam yang mempertahankan acara Adat Dayak. Sebagian besar besar mereka malah mengadopsi adat suku Banjar atau Melayu.
Dalam wilayah Pemerintahan Kota Palangka Raya pada umumnya adat-istiadat mempunyai pengaruh yang kuat dalam tata pergaulan masyarakat wilayah pedesaan. Sebaliknya pada wilayah perkotaan, pengaruh adat-istiadat jauh lebih longgar. Namun sejak terjadinya musibah Nasional Konflik Etnik pada bulan februari 2001, geliat kesadaran masyarakat adat semakin terasa baik dalam kehidupan masyarakat sehari-hari maupun yang terkait dengan kegiatan pemerintahan atau peristiwa budaya. Bentuk kegiatan yang menunjukkan pengaruh adat-istiadat dewasa ini antara lain:
1. Acara Perkawinan Adat
2. Acara Porong Pantan dalam rangka menyambut tamu hormat
3. Acara Balian Karunya dalam rangka suatu perayaan/keramaian daerah
4. Acara Tampung Tawar dalam rangka peresmian gedung utama Perkantoran Pemerintah
5. Perkembangan Tarian Daerah seiring berkembangnya sejumlah sanggar seni
6. Festifal Tandak
7. Pakaian Adat
8. Home Industri Benang Bintik
9. Home Industri Anyaman Rotan, Kerajinan Getah Nyaho
10. Acara Perdamaian Adat (apabila terjadi peristiwa kecelakaan lalu lintas, perkelahian/sengketa dan lain-lain)
11. Upacara Manyanggar
12. Desain Motif Adat pada bangunan rumah atau gedung Pemerintah
13. Pemberian Gelar Kehormatan Adat dan lain-lain.
(Siun, 2001)

3. Perkembangan Pembangunan Kota Palangka Raya Kedepan
Sejak awal pembangunan kota Palangka Raya mempunyai motto 3 M, artinya Modal, Model, dan Modern. Selanjutnya oleh Walikota saat itu Drs. Donis Singaraca yang menjabat dari tahun 1988 sampai tahun 1993 Kota Palangka Raya diberikan entitas sebagai Kota Cantik yang merupakan akronim dari:
C = Terencana
A = Aman
N = Nyaman
T = Tertib
I = Indah
K = Keterbukaan

Motto tersebut kemudian dipopulerkan oleh penggantinya yang dijabat oleh Drs. Nahson Taway yang sekarang menjabat Wakil Gubernur Kalimantan Tengah. Atribut 3 M (Modal, Model, dan Modern) serta CANTIK (Terencana, Aman, Nyaman, Tertib, Indah, Keterbukaan) tersebut lebih sempurna apabila diperkaya dengan ciri khas daerah dan nuansa adat. Dengan demikian maka Kota Palangka Raya disamping menjadi Pusat Pemerintahan dan Pusat Pendidikan di Kalimantan Tengah sekaligus juga menjadi Pusat Kebudayaan dan Pariwisata.
(Tim Penulis Kota Palangka Raya, 2003)

Kesimpulan
1. Bahwa nenek moyang Suku Dayak Ngaju berasal dari daerah pegunungan Yunan bagian selatan yang melakukan pengungsian mencari tempat pemukiman baru bersamaan dengan perpindahan bangsa-bangsa yang kedua pada abad ke-IV, masuk ke wilayah Kalimantan Tengah sekarang melalui 3 (tiga) koridor utama melewati wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur sekarang. Penyebaran Suku Dayak dari sebelah utara (hulu sungai Katingan dan Kahayan) menyebar kesebagian besar wilayah Kalimantan Tengah sekarang.
2. Kata Dayak artinya sungai yang terdapat pada salah satu anak Suku Benuaq di Kalimantan Timur serta bahasa suku (lokal) di Kalimantan Barat dan Serawak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa suku bangsa yang mendiami pulau borneo diberikan nama suku bangsa Dayak yang artinya suku bangsa yang bermukim di sepanjang tepi sungai.
3. Adat-istiadat Suku Dayak Ngaju menganut ”falsafah betang” yaitu sistem nilai-nilai/norma kehidupan bermasyarakat berdasarkan kekeluargaan, kebersamaan, kesetaraan dalam masyarakat terbuka (civil society) yang ber-Bhineka Tunggal Ika, dimana dalam falsafah itu juga mengatur tentang Hubungan Manusia dengan sesamanya, Manusia dengan Binatang, Manusia dengan Tumbuh-tumbuhan (alam sekitar) yang mana kesemuanya adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Falsafah “Budaya Betang”, Hukum Adat dan Adat Istiadat menjadi landasan kearifan tradisional yang masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan modern sekarang ini dimana tentunya setiap warga haruslah mengaplikasikan motto “dimana langit dipijak disitu langit dijunjung” sebagai pedoman yang mengatur pergaulan hidup antar sesama warga masyarakat yang bersifat rukun dan damai, toleransi tinggi diantara sesama warga atau kelompok masyarakat yang berbeda serta agar mampu menyesuaikan diri dengan adat-istiadat serta menghindarkan diri dari perilaku yang tidak sesuai dengan Adat-istiadat dan hukum adat.
4. Bahwa menerapkan adat-istiadat dalam kehidupan modern bukanlah sesuatu yang naïf atau ketinggalan zaman. Kita semua tentunya dapat belajar dari bangsa Jepang sebagai negara maju yang tetap mempertahankan adat-istiadat masyarakat dan bangsanya.
Saran-saran
Agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam falsafah “Budaya Betang” dapat lestari dan selaras dengan perkembangan zaman modern dewasa ini diharapkan kepada:
1. Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Tengah melakukan tindakan konkrit yang nyata dalam mewujudkan pelestarian terhadap “Budaya Betang” tersebut.
2. Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Tengah menerbitkan Kamus Bahasa Dayak Ngaju – Bahasa Indonesia dan bahkan mungkin Bahasa Dayak Ngaju – Bahasa Inggris.
3. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Kalimantan Tengah menetapkan dan menambahkan mata pelajaran muatan lokal “Bahasa Daerah Dayak Ngaju” pada Mata Pelajaran Bahasa di tingkat SD, SMP, SMA sederajat ; maupun Fakultas Sastra dan Seni pada Perguruan Tinggi.
4. Pemerintah Daerah dalam hal ini pihak Museum Propinsi Kalimantan Tengah untuk lebih memberikan perhatian khusus terhadap situs-situs budaya.
5. Dinas Kehutanan dan Konservasi SDA Propinsi Kalimantan Tengah untuk lebih tegas dalam pengambilan kebijakan dalam upaya menjaga dan melestarikan Sumber Daya Alam yang ada dari ancaman eksplorasi dari pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA
Biro Pemerintahan Desa Setda Propinsi Kalimantan Tengah. Lembaga Kedamangan dan Hukum Adat Dayak Ngaju di Propinsi Kalimantan Tengah. 2000
Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Kalimantan Tengah. 1994
Ilo. Konvensi Masyarakat Adat dan Suku Asli di Negara-Negara Merdeka. 1989
Koentjaraningrat. Antropologi Budaya. 1979
KMA.M.Usop. Ketua Umum BP-KRKT, Budaya Betang: Sistem Nilai Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. 2001
……. Profil Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah. 1995
…… Rapat Damai Tumbang Anoi. 1993
Musni Umberan. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. 1994
Nila Riwut. Maneser Panatau Tatu Hiang. Penerbit Pusakalima. 2003
Siun. Aktualisasi Hukum Adat Guna Mendukung Otonomi Daerah di Kalimantan Tengah. 2001
Tim Penulis Pemerintah Kota Palangka Raya. Sejarah Kota Palangka Raya. 2003

Sumber:http://www.kontan.co.id/index.php/Internasional/news/6664/Ini_Dia_Pekerjaan_Terbaik_di_Dunia_

SYDNEY. Pemerintah Australia menawarkan sebuah pekerjaan menarik. Jenis pekerjaan ini berbeda dari pekerjaan pada umumnya, yakni bermalas-malasan selama enam bulan di pulau tropis selama enam bulan. Tak ayal, banyak yang bilang ini merupakan pekerjaan terbaik di dunia.

Untuk melakukan pekerjaan ini, seseorang akan dibayar sebesar 150.000 dolar Australia atau US$ 105.000. Uang tersebut sudah termasuk tiket pesawat dari negara asal pemenang ke Hamilton Island di Great Barrier Reef. Hal ini diumumkan oleh pemerintah negara bagian Queensland pada Kamis kemarin.

Sebagai gantinya, “sang penguasa pulau” hanya diharapkan berjalan-jalan di pasir putih, menyelam dan melakukan beberapa pekerjaan reportase. Si pemenang harus melaporkan kegiatannya per minggu melalui blog, photo diaries dan video yang selalu di update.

Sang pemenang juga nantinya akan tinggal di tiga kamar pantai sewaan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Di tempat penginapan ini sudah disediakan beberapa fasilitas pendukung seperti kolam renang dan lapangan golf. Persyaratan untuk melamar pekerjaan ini tak muluk-muluk. Sang pelamar harus bisa berenang, sanggup mengoperasikan communicator dan mampu berbicara dan menulis dengan menggunakan bahasa Inggris.

“Mereka juga harus dapat berkomunikasi kepada media dari waktu ke waktu tentang segala aktivitas yang mereka lakukan. Jadi pelamar tidak boleh seorang yang pemalu dan mencintai laut, matahari dan alam bebas,” jelas Acting State Premier Paul Lucas. Lucas menambahkan, pemenang akan dibayar untuk mengeksplorasi pulau Great Barrier Reef dengan cara berenang, snorkeling dan sebagainya.

Menurut Lucas, sayembara ini digelar dalam rangka kampanye untuk melindungi industri pariwisata yang semakin melempem akibat perlambatan ekonomi global. “Kami menilai, dengan melakukan iklan pariwisata secara tradisional hal itu tidak terlalu menarik,” katanya.

Meski demikian, kampanye pariwisata yang tergolong nyeleneh ini boleh jadi mengundang pendapat miring dari sejumlah pihak. Menurut Queensland Tourism Minister Desley Boyle, banyak pihak menanyakan risiko untuk membiarkan orang asing menjadi juru bicara pariwisata di negara tersebut.

“Saya rasa risiko terbesar adalah kandidat yang berhasil lolos tidak akan mau pulang hingga enam bulan ke depan,” katanya.

Pekerjaan ini terbuka bagi siapa saja. Pendaftaran dibuka hingga 22 Februari. Dan 11 kandidat yang terpilih akan diterbangkan ke Hamilton Island pada awal Mei untuk proses seleksi final. Dan pemenang akan diumumkan pada 1 Juli 2009.

Bagi Anda yang berminat, kunjungi saja situs islandreefjob.com. Tertarik mendaftar?

Barratut Taqiyyah AP

(Masih Perlukah, karena kita telah mempunyai Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi dan Akreditasi Sekolah untuk Sekolah?)

Bagi setiap institusi, mutu adalah agenda utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Walaupun demikian, ada sebagian orang yang menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh teka-teki. Mutu dianggap sebagai suatu hal yang membingungkan dan sulit untuk diukur. Mutu dalam pandangan seseorang terkadang bertentangan dengan mutu pendapat orang lain, sehingga tidak aneh jika ada dua pakar yang tidak memiliki kesimpulan yang sama tentang bagaimana menciptakan institusi yang baik.
Kita memang bisa mengetahui ketika kita mengalaminya, tapi kita tetap merasa kesulitan ketika kita mencoba mendeskripsikan dan menjelaskannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan mutu, terutama jika mutu tersebut sudah menjadi kebiasaan kita. Namun ironisnya, kita hanya bisa menyadari keberadaan mutu tersebut saat mutu tersebut hilang. Satu hal yang bisa kita yakini adalah mutu merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya. Bertolak dari pernyataan tesebut, mutu dalam pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Sehingga, mutu jelas sekali merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan institusi pendidikan dalam meraih status ditengah persaingan dunia pendidikan yang kian keras.
Menemukan sumber mutu adalah sebuah petualangan yang penting. Pelaku-pelaku dunia pendidikan menyadari keharusan mereka untuk meraih mutu tersebut dan menyampaikannya pada anak didik. Sesungguhnya, ada banyak sumber mutu dalam pendidikan, misalnya sarana gedung yang bagus, pengajar yang kompeten, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan orang tua, bisnis dan komitas lokal, sumber daya yang melimpah, aplikasi teknologi mutakhir, kepemipinan yang baik dan efektif, perhatian terhadap anak didik, kurikulum yang memadai, atau juga kombinasi dari faktor-faktor tersebut.
Seiring perjalanan waktu, dalam Era Milenium Ketiga, dengan terbentuknya WTO dan diratifikasikannya perjanjian tersebut yang mengatur tata perdagangan, jasa dan trade related intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual dengan perdagangan maka Negara-negara anggotanya akan bersaing dan bagi Negara yang kurang dapat bersaing akan menjadi incaran dari Negara-negara eksportir jasa pendidikan dan pelatihan, termasuk Indonesia yang masuk menjadi anggota WTO pada tahun 1995.
Keadaan pendidikan di Indonesia telah banyak dilakukan pembaharuan. Tujuan pembaharuan itu adalah untuk menjaga agar produk pendidikan kita tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja, persyaratan bagi pendidikan lanjut pada jenjang pendidikan berikutnya serta mampu menghadapi persaingan globalisasi dunia internasional.
Salah satu kunci agar sukses dapat bersaing dipasar global adalah kemampuan untuk memenuhi atau melampaui standar-standar yang berlaku. Apabila kualitas ditentukan oleh pelanggan, maka standar-standar kualitas sama dengan harapan pelanggan. Untuk menjamin adanya keragaman dalam kualitas maka perlu dibentuk standar-standar yang sama pula. Dengan cara ini maka apa yang dianggap sebagai produk berkualitas disuatu negara juga akan dapat diterima dinegara lainnya.
Di dunia global banyak sekali terdapat berbagai macam standar untuk menetapkan bahwa suatu produk itu dinyatakan “layak”, baik itu produk barang maupun produk jasa. Salah satu standar yang saat ini menjadi tolak ukur “layak-tidaknya” nya suatu produk adalah apa yang dinamakan dengan standar internasional ISO 9000.
Pengertian ISO 9000
Standar ISO 9000 mendapat perhatian yang serius terutama dari Amerika dan Eropa. Sekitar 17.000 perusahaan di Inggris sudah terdaftar pada standar tersebut. Hal ini tidak mengejutkan mengingat bahwa para ahli pendidikan disana memiliki kesadaran untuk menerapkan standar tersebut kedalam institusi mereka.
ISO 9000 adalah salah satu standar yang dihasilkan di Jenewa, Swiss oleh Organization for Standarization. ISO merupakan kepanjangan dari International Standar Organization yakni sekumpulan standar sistem kualitas universal yang memberikan rerangka yang sama bagi jaminan kualitas yang dapat dipergunakan diseluruh dunia. (Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, 2002)
ISO 9000 sendiri adalah suatu rangkaian dari lima seri standar mutu internasional. Seri tersebut diberi nama sedemikian rupa sehingga terdiri dari 5 (lima) set standar atau criteria dengan kodifikasi angka berurutan mulai dari 9000. Selain itu masih ada seri 14000 yang merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu proyek yang berkaitan dengan tanggung jawab proyek itu terhadap lingkungan. Kesemua standar ISO tersebut mempunyai pengertian, maksud dan tujuan yang berbeda-beda, namun dalam penulisan makalah ini penyusun hanya membahas tentang ISO 9000 saja yang secara konseptual dewasa ini mendapatkan perhatian serius dari dunia pendidikan.
Tujuan ISO 9000
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2002) menyatakan bahwa tujuan utama dari ISO 9000 adalah:
1. Organisasi harus mencapai dan mempertahankan kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, sehingga secara berkesinambungan dapat memenuhi kebutuhan para pengguna (costumer).
2. Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak manajemennya sendiri bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah dicapai dan dapat dipertahankan.
3. Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak costumer bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah atau akan dicapai dalam produk atau jasa yang dijua.
Manfaat ISO 9000
Manfaat yang didapatkan oleh suatu organisasi/institusi (baik itu lembaga pendidikan) yang telah memperoleh sertifikasi ISO 9000 adalah diperolehnya suatu akses yang lebih besar untuk memasuki pasar luar negeri (terutama mensyaratkan dipenuhinya ISO 9000) dan memiliki kesesuaian (compatibility) dengan pemasok dari luar negeri. Selain itu ada pula manfaat tambahan lainnya. Proses yang dilakukan oleh organisasi untuk mencapai sertifikasi cenderung meningkatkan kualitas dan keragaman pekerjaan yang secara bersamaan juga meningkatkan produktivitas yang pada gilirannya dapat meningkatkan pula daya saing organisasi.
Persyaratan Sertifikasi ISO 9000 Dalam Pendidikan
Edward Sallis dalam bukunya Total Quality Management in Education atau Manajemen Mutu Pendidikan (2007) menyatakan bahwa ada beberapa syarat sebuah organisasi/institusi pendidikan agar bisa mendapatkan sertifikasi ISO 9000, yaitu:
1. Komitmen Manajemen terhadap Mutu
2. Sistem Mutu
3. Kontrak dengan Pelanggan Internal & Eksternal (Hak Pelajar dan Hal Pelanggan Eksternal, seperti orang tua)
4. Kontrol Dokumen
5. Kebijakan Seleksi & Ujian Masuk
6. Layanan Pendukung Pelajar, yang mencakup Kesejahteraan, Konseling dan Pengarahan Tutorial
7. Catatan Kemajuan Pelajar
8. Pengembangan, Desain dan Penyampaian Kurikulum~Strategi-strategi Pengajaran dan Pembelajaran
9. Penilaian Tes
10. Konsistensi Metode Penelitian
11. Prosedur dan Catatan Penilaian yang mencakup Catatan Prestasi
12. Metode dan Prosedur Diagnostik untuk Mengidentifikasikan Kegagalan dan Kesalahan
13. Tindakan Perbaikan terhadap Kegagalan Pelajar, Sistem untuk Menghadapi Komplain dan Tuntutan
14. Fasilitas & Lingkungan Fisik, Bentuk Tawaran Lain, seperti Fasilitas Olah Raga, Kelompok-kelompok dan Perkumpulan Ekstra Kurikuler, Persatuan Pelajar, Fasilitas Pembelajaran, dan lain-lain
15. Catatan Mutu
16. Prosedur-prosedur Pengesahan & Audit Mutu Internal
17. Pelatihan dan Pengembangan Staf, mencakup Prosedur-prosedur untuk Menilai Kebutuhan-kebutuhan Pelatihan dan Evaluasi Efektifitas Pelatihan
18. Metode-metode Review, Monitoring dan Evaluasi
Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) merupakan satu-satunya badan akreditasi yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia (dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan Nasional). BAN-PT berdiri pada tahun 1994, berlandaskan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. Sebagai satu satunya badan akreditasi yang diakui oleh pemerintah BAN-PT memiliki wewenang untuk melaksanakan sistem akreditasi pada pendidikan tinggi. Dalam wewenang ini termasuk juga melaksanakan akreditasi bagi semua institusi pendidikan tinggi (baik untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Perguruan Tinggi Agama (PTA) dan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK)); program-program pendidikan jarak jauh; dan program-program, secara kerjasama dengan insitiusi pendidikan tinggi di dalam negeri, yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi dari luar negeri (saat ini institusi pendidikan tinggi dari luar negeri tidak dapat beroperasi, secara legal, di Indonesia). Dalam PP No. 60 tahun 1989. PP 60 disebutkan bahwa BAN-PT merupakan badan yang mandiri (independen) yang diangkat dan melaporkan tugasnya pada Menteri Pendidikan Nasional.
Fungsi utama Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) menurut peraturan perundangan yang ada (UURI No. 20 tahun 2003, PPRI No. 60/1999, SK Menteri Pendidikan Nasional No. 118/U/2003), pada dasarnya adalah: membantu Menteri Pendidikan Nasional dalam pelaksanaan salah satu kewajiban perundangannya, yaitu penilaian mutu perguruan tinggi, yaitu Perguruan Tinggi Negeri, Kedinasan, Keagamaan, dan Swasta.
Visi BANPT 2011:
“BAN-PT menjadi Badan Penjaminan Mutu Eksternal Perguruan Tinggi yang Terbaik di Indonesia dan pada tahun 2011 Dihormati dan menjadi Rujukan Badan Penjaminan Mutu Eksternal di seluruh dunia atas ridlo Tuhan Yang Maha Esa.”
Misi
1. Melaksanakan akreditasi perguruan tinggi di Indonesia secara andal (credible), akuntabel dan bertanggungjawab
2. Mensukseskan keterlaksanaan Renstra Depdiknas yang terkait dengan penjaminan mutu eksternal perguruan tinggi
Sasaran
• Melakukan akreditasi terhadap program studi dan institusi perguruan tinggi secara nasional bagi perguruan tinggi negeri, swasta, kedinasan dan keagamaan yang menyelenggarakan program profesional maupun akademik.
• Menyampaikan informasi hasil akreditasi kapada publik pengguna perguruan tinggi atau lulusannya.
• Melakukan akreditasi terhadap program studi dan institusi perguruan tinggi secara nasional bagi perguruan tinggi negeri, swasta, kedinasan dan keagamaan yang menyelenggarakan program profesional maupun akademik.
• Menyampaikan informasi hasil akreditasi kapada publik pengguna perguruan tinggi atau lulusannya
Tugas
1. Melakukan penilaian mutu dan efisiensi semua perguruan tinggi secara berkala dalam rangka membantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan Pasal 60/61 UURI No. 20 tahun 2003.
2. Fungsi melakukan penilaian tersebut meliputi kurikulum, mutu dan jumlah tenaga kependidikan, keadaan mahasiswa, pelaksanaan pendidikan, sarana dan prasarana, tatalaksana administrasi akademik, kepegawaian, keuangan dan kerumah-tanggaan perguruan tinggi.
Fungsi
1. Mengawasi mutu dan efisiensi pendidikan tinggi melalui proses akreditasi pada semua program studi dalam institusi pendidikan tinggi di Indonesia;
2. Menyebarluaskan informasi pada publik mengenai status akreditasi dari program studi dalam institusi pendidikan tinggi, sehinggga publik dalam meyakini mutu pendidikan yang ditawarkan, dan mutu program-program tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan;
3. Memberikan saran pembinaan mengenai peningkatan mutu program-program studi.
Alasan Mendasar Institusi / Lembaga Pendidikan Menggunakan Standar ISO 9000 Walaupun Terdapat B.A.N Perguruan Tinggi
Berdasarkan pembahasan mengenai ISO 9000 dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) tersebut diatas maka jelaslah kiranya dapat dibedakan mengenai standar internasional (ISO 9000) dan standar nasional (BAN PT).
Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi adalah merupakan suatu badan penjamin mutu pendidikan (terutama pendidikan tinggi) di Indonesia, yang melakukan akreditasi terhadap institusi pendidikan tinggi baik itu negeri maupun swasta, sehingga semua pendidikan tinggi tersebut memiliki mutu dan kualitas yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Mutu dan kualitas yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tersebut merupakan suatu standar nasional yang gunanya menyeragamkan mutu dan kualitas semua insitusi pendidikan tinggi diseluruh Indonesia berdasarkan keadaan dan keberagaman bangsa Indonesia, sehingga jelaslah bahwa BAN PT merupakan suatu tolak ukur mutu pendidikan secara nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan di tingkat nasional.
Kenyataannya mutu pendidikan Indonesia sampai sekarang ini belumlah mampu untuk bersaing atau bahkan menang dalam menghadapi persaingan global dalam dunia pendidikan. Salah satu hal mendasar yang dapat kita temukan dalam dunia pendidikan kita yang menunjukkan bahwa mutu pendidikan kita kurang dapat bersaing dengan dunia internasional adalah dengan maraknya muncul sekolah ataupun perguruan tinggi dan tenaga pengajar dari dunia internasional yang masuk dan menyelenggarakan pendidikannya di Negara kita. Untuk menghadapi permasalahan itu Departemen Pendidikan Nasional melalui Badan Akreditasi (BAN) Perguruan Tinggi telah menetapkan visi, misi, sasaran dan tujuan sampai tahun 2011 bahwa dengan berawal dari terakreditasinya seluruh pendidikan tinggi di Indonesia menurut standar BAN PT yang dilakukan dengan perbaikan terus-menerus secara komprehensip maka pada tahun 2011 mutu dan kualitas akan sesuai dengan standar ISO 9000 dan diharapkan pendidikan kita akan menjadi rujukan dunia internasional
ISO 9000 merupakan standar internasional dimana suatu organisasi (termasuk didalamnya institusi pendidikan) yang memiliki sertifikat ISO 9000 tersebut kualitasnya diakui oleh dunia internasional dan dapat memperoleh akses yang lebih besar untuk memasuki pasar luar negeri, terutama dalam hal membuka cabang institusi dan “peng-eksporan” tenaga jasa pendidikan diluar negeri terutama Negara yang mensyaratkan dipenuhinya ISO 9000 dan memiliki kesesuaian (compatibility) dengan pemasok dari luar negeri
Selain itu sebuah institusi atau lembaga pendidikan yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 9000 tersebut cenderung untuk meningkatkan kualitas dan keragaman pekerjaan yang secara bersamaan juga meningkatkan produktivitas yang pada gilirannya dapat meningkatkan pula daya saing institusi atau lembaga pendidikannya untuk menghadapi persaingan globalisasi. Oleh karena itu agar mutu dan kualitas pendidikan kita dapat bersaing atau bahkan memenangkan dalam globalisasi dunia pendidikan internasional maka BAN PT merupakan suatu konsep dasar pijakan mutu dan kualitas pendidikan kita agar bisa sesuai standar ISO 9000 sehingga kita siap dalam menghadapi globalisasi tersebut
Kesimpulan
1. Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi adalah merupakan suatu badan penjamin mutu pendidikan (terutama pendidikan tinggi) di Indonesia, yang melakukan akreditasi terhadap institusi pendidikan tinggi baik itu negeri maupun swasta, sehingga semua pendidikan tinggi tersebut memiliki mutu dan kualitas yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Mutu dan kualitas yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tersebut merupakan suatu standar nasional yang gunanya menyeragamkan mutu dan kualitas semua insitusi pendidikan tinggi diseluruh Indonesia berdasarkan keadaan dan keberagaman bangsa Indonesia, sehingga jelaslah bahwa BAN PT merupakan suatu tolak ukur mutu pendidikan secara nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan di tingkat nasional.
Kenyataannya mutu pendidikan Indonesia sampai sekarang ini belumlah mampu untuk bersaing atau bahkan menang dalam menghadapi persaingan global dalam dunia pendidikan. Salah satu hal mendasar yang dapat kita temukan dalam dunia pendidikan kita yang menunjukkan bahwa mutu pendidikan kita kurang dapat bersaing dengan pasar internasional adalah dengan maraknya muncul sekolah ataupun perguruan tinggi dan tenaga pengajar dari dunia internasional yang masuk dan menyelenggarakan pendidikannya di Negara kita. Untuk menghadapi permasalahan itu Departemen Pendidikan Nasional melalui Badan Akreditasi (BAN) Perguruan Tinggi telah menetapkan visi, misi, sasaran dan tujuan sampai tahun 2011 bahwa dengan berawal dari terakreditasinya seluruh pendidikan tinggi di Indonesia menurut standar BAN PT yang dilakukan dengan perbaikan terus-menerus secara komprehensip maka pada tahun 2011 diharapkan mutu dan kualitas pendidikan kita sesuai dengan standar ISO 9000.
2. Walaupun telah ada BAN Perguruan Tinggi dan Akreditasi Sekolah, untuk bisa bersaing dan memenangkan persaingan global internasional dalam dunia pendidikan maka sangatlah perlu institusi/lembaga pendidikan dinegara kita mempunyai mutu dan kualitas yang sesuai dengan standar ISO 9000 dan mendapatkan sertifikat ISO 9000 tersebut.
Saran
Agar mutu dan kualitas pendidikan kita dapat bersaing dalam menghadapi globalisasi dunia pendidikan internasional maka BAN PT dalam melakukan penjaminan mutu pendidikan yang berkaitan dengan kurikulum, mutu dan jumlah tenaga kependidikan, keadaan mahasiswa, pelaksanaan pendidikan, sarana dan prasarana, tatalaksana administrasi akademik, kepegawaian, keuangan dan kerumah-tanggaan perguruan tinggi haruslah disesuaikan dengan kriteria persyaratan sertifikasi standar ISO 9000.
DAFTAR PUSTAKA
Sallis, E. 2007. Total Quality Management In Education. Manajemen Mutu Pendidikan. Alih Bahasa Oleh Dr. Ahmad Ali Riyadi, Fahrurrozi, M.Ag. Jogjakarta: IRCiSoD
Tjiptono, F & Diana, A. 2002. Total Quality Management. Edisi Revisi. Jogjakarta: Penerbit Andi
Administrator. 2007. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Jakarta: Depdiknas

Merujuk pada UU No. 23 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional, pada pasal 1 dan pasal 39 yang secara garis besar menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tenaga pendidik adalah semua pihak yang berperan dan bertugas menjalankan pengajaran, menilai hasil belajar, penelitian, pengabdian masyarakat dan pendidikan baik sebagai guru, dosen, konselor, staf pengajar, instruktur, tentor, pelatih, widyaiswara, pamong belajar, fasilitator atau apapun sebutannya yang pada prinsipnya sama dan tidak dibedakan satu dengan yang lain.
Pekerjaan yang dilakukan oleh para pendidik adalah pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat, walaupun masalah kesejahteraan bagi para pendidik sampai saat ini masih menjadi permasalahan utama. Jika dalam konstitusi dicantumkan cita-cita tanah air untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka perwujudan cita-cita luhur tersebut saat ini ditujukan bahwa pendidikan harus dapat meningkatkan daya saing bangsa menuju bangsa yang bermartabat di pentas dunia.
Memang berat mewujudkan sasaran tersebut mengingat minimnya anggaran pendidikan yang ada di APBN. Akan tetapi pendidikan tidak boleh berhenti walaupun dengan segala kemampuan energi yang seadanya. Kembali lagi tenaga pendidik sebagai salah satu pilar pendidikan harus diperhatikan dengan baik dari berbagai aspek khususnya hakhak yang dimiliki oleh para pendidik dan kesejahteraan yang patut diterima secara proporsional.
Wacana peningkatan kesejahteraan para pendidik harus harus didukung penuh oleh semua pihak khususnya pemerintah dan untuk itu artikel ini akan membuka suatu wacana kesenjangan harapan (Expectation Gap) yang dialami oleh salah satu pendidik yang bekerja diperguruan tinggi yaitu yang berprofesi sebagai dosen.
Mengenal profesi dosen
Salah satu pendidik yang menjalankan tugasnya adalah dosen. Pada kenyataannya, dosen juga sebagai guru dan pendidik, akan tetapi karena perbedaan image yang melekat pada masing-masing pendidik ini, maka seolaholah ada perbedaan yang sangat jauh antara guru dan dosen. Bagi para Guru selalu melekat image pengabdian dan pengorbanan sehingga guru dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa sedangkan pada profesi dosen melekat image lebih elit dan memiliki status sosial yang lebih bergengsi dimasyarakat. Benarkah demikian? Perlu kiranya kita mendiskusikan dalam tatanan kondisi objektif dan realitas yang ada.
Jadi, dosen harus mempunyai tanggung-jawab yang besar dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar untuk membina dan mengembangkan potensi mahasiswa guna mencapai tujuan PT. Pada gilirannya lulusan PT berpengaruh besar pada masa depan bangsa. Hal ini tersurat dalam persyaratan untuk menjadi dosen, menurut UU No. 2/1989 dan PP No. 30/1990, yakni: Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME Berwawasan Pancasila dan UUD 1945. Memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar. Mempunyai moral dan integritas yang tinggi. Memiliki rasa tanggung-jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara.
Untuk itu setiap dosen sudah seharusnyalah memiliki kemampuan dasar agar dapat digunakan dalam pelaksanaan kegiatan fungsional dengan baik. Kemampuan dasar yang dimaksud, menurut Soehendro (1996) adalah: Kemampuan subyek yakni kemampuan sebagai seorang ahli atau spesialis dalam disiplin ilmu yang ditekuni. Kemampuan kurikulum yakni kemampuan untuk menjelaskan peran dan kedudukan mata kuliah yang diasuh. Kemampuan pedagogik, yakni kemampuan untuk proses pembelajaran mata kuliah yang menjadi tanggungjawabnya. Sejalan dengan tugasnya sebagai akademik, maka dosen harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian, sesuai dengan Tri Dharma PT. Dengan penelitian, dosen dapat menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemudian mengabdikan ilmu pengetahuannya kepada masyarakat. Guna mewujudkan semua itu, maka otonomi keilmuan, kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik dalam melaksanakan kegiatan fungsional menjadi ciri khas dan tuntutan komunitas ilmiah yang terlibat secara langsung dengan kegiatan institusi. Otonomi keilmuan merupakan hak atau kewenangan yang diberikan oleh yang berwenang atau pemerintah kepada suatu lingkungan masyarakat, himpunan atau badan resmi lain untuk menjalankan fungsinya secara mandiri selama hal itu tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Kebebasan akademik adalah kebebasan yang dimiliki sivitas akademika untuk secara bertanggung-jawab dan mandiri melaksanakan kegiatan akademik yang terkait dengan pendidikan dan pengembangan iptek.
Kebebasan mimbar akademik berlaku sebagai bagian dari kebebasan akademik yang memungkinkan dosen menyampaikan pikiran dan pendapat di PT yang bersangkutan sesuai dengan norma dan kaidah keilmuan (PP No. 30/1990). Penyelenggaraan PT yang baik tidak mungkin terlaksana jika tidak tersedia dosen yang memiliki perilaku (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dan tingkah laku (pola tindakan) yang baik dan sesuai untuk pelaksanaan fungsi pendidikan tinggi (Tri Dharma PT). Dengan kata lain untuk menjalankan fungsinya dengan baik dan berkualitas, diperlukan staf akademik yang profesional.
Banyak cara untuk menuju dosen yang profesional. Diantaranya dapat diupayakan melalui program tetap dalam pola manajemen PT itu sendiri sedemikian rupa sehingga dapat: Mengidentifikasi keperluan akan pelatihan dan studi lanjut (pasca sarjana) bagi staf akademik; Mengidentifikasi staf akademik yang harus mengikuti pelatihan dan atau studi lanjut; dan Mengupayakan adanya kesempatan bagi staf akademik untuk mengikuti pelatihan dan atau studi lanjut.

Secara umum ada beberapa langkah yang dapat ditempuh guna menuju terwujudnya dosen yang professional atau pengembangan professional dosen, antara lain:
1. Melakukan kegiatan Tri Dharma PT secara seimbang dan proporsional dengan tetap menjaga kualitas masing-masing unsur dharma (memenuhi standar baku).
2. Guna mewujudkan butir (1) diatas, maka langkah utama adalah menempuh studi lanjut (S2 dan S3).
3. Memupuk minat dan mentradisikan budaya baca yang tinggi guna menimba ilmu baru dan informasi mutakhir.
4. Selalu mencari kesempatan untuk mengikuti berbagai forum ilmiah seperti diskusi, seminar, lokakarya dan sebagainya, baik sebagai penyaji materi, moderator, maupun sebagai peserta guna memperluas wawasan dan memperkaya khasanah keilmuan.
5. Menciptakan iklim akademik dan menumbuh-suburkan budaya ilmiah dengan membentuk kelompok-kelompok studi atau pusat studi keilmuan, mengadakan aktivitas ilmiah sehingga tidak terjebak dalam rutinitas kerja mengajar saja, atau kegiatan sosial kemasyarakatan, organisasi dan lain-lain yang masih bernuansa ilmiah.
6. Menjadikan dosen menulis makalah, artikel di majalah ilmiah, media massa maupun buku teks sebagai aktivitas keseharian disamping membaca dan berdiskusi (Menurut Francis Bacon: membaca, menulis, dan berdiskusi merupakan trilogi yang tak terpisahkan jika seseorang ingin memperkaya dan memperluas ilmu).
7. Memiliki perpustakaan pribadi yang memadai dengan membiasakan diri menyisihkan dana khusus untuk membeli buku secara rutin tiap bulan.
8. Mengikuti dan menjadi anggota organisasi profesi sesuai dengan disiplin ilmunya agar tidak ketinggalan informasi di bidang keilmuannya.
9. Mengaplikasikan ilmu dengan menghasilkan berbagai karya ilmiah, dan lain-lain.
Di samping ketiga langkah strategis dalam pengembangan PT diatas, sebenarnya masih ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam mengantisipasi deregulasi PT yang serba kompetitif, seperti perlunya peningkatan gairah dan penciptaan budaya akademik sehingga terjadi dinamika akademik dan produktivitas ilmiah dalam bentuk publikasi karya ilmiah. Juga diperlukan jalinan hubungan kemitraan dengan berbagai institusi ilmiah lain guna meningkatkan kualitas akademik disamping menjalin hubungan kemitraan dengan dunia kerja. Namun mengingat berbagai keterbatasan yang ada, maka agenda masalah ini sementara perlu dideskripsikan lebih luas. Pada gilirannya, dengan kerja keras para dosen dan pimpinan PT yang meletakkan kebijakan dan kemitraan dengan berbagai institusi lain, baik institusi ilmiah dalam negeri, luar negeri, maupun dunia kerja, niscaya akan menumbuhkan kualitas PT itu sendiri.

KONDISI OBJEKTIF DOSEN
Setidaknya ada dua hal penting yang dapat disoroti pada realitas profesi dosen. Pertama secara umum masih banyak kelompok dosen dari sisi aktifitas hanya mengandalkan kegiatan belajar mengajar sebagai aktifitas utama, selebihnya mereka memilih mencari sampingan berbisnis atau bekerja disektor lain. Padahal masih ada kewajiban lain bagi para dosen yaitu melakukan aktifitas penelitian dan pengabdian masyarakat, akan tetapi kedua aktifitas tersebut sulit dilaksanakan dan tertinggalkan, karena mereka harus bekerja ekstra keras guna memutupi kebutuhan ekonomi. Kedua dari sisi kesejahteraan, profesi dosen juga masih banyak yang belum mendapatkan penghasilan sebagaimana yang diharapkan dengan status sosial yang tinggi dimasyarakat.
Fakta ini didukung dengan masih ditemukannya penghasilan seorang dosen dengan jumlah penghasilan dibawah Upah Minimum Propinsi (UMP), sungguh sangat tragis dan memprihatinkan. Maka timbullah pertanyaan mendasar: “Mungkinkah dosen dapat profesional dengan kesejahteraan yang minim?”, lantas bagaimana pula pendidikan tinggi dapat berkualitas jika dosen-dosen yang menjalankan tugasnya diperguruan tinggi tidak profesional? suatu kenyataan pahit bagi potret buruk pendidikan tinggi kita. Jika dibandingkan dengan negara serumpun Malaysia sangat mengagumkan penghasilan dosen yang mendapatkan kesejahteraan jauh lebih baik serta apresiasi tinggi dimasyarakat.

PENUTUP
Semua pihak diharapakan dapat memahami kesenjangan harapan (Expectation Gap), yang terjadi pada profesi pendidik khususnya dosen di republik ini. Masalah klasik yaitu kesejahteraan dosen masih menjadi masalah utama bagi dunia pendidikan tinggi. Penulis menyarankan bahwa para dosen hendaknya menyatukan langkah dan potensi yang dimiliki dengan mewujudkan solideritas dalam rangka membangun kreatifitas untuk peningkatan pemberdayaan profesi dosen guna mencapai kesejahteraan yang lebih baik dalam rangka mewujudkan profesionalisme. Sudah tidak saatnya lagi dosen terpecah-pecah dan terkelompok-kelompok dalam simbol-simbol yang tidak substansial. Alangkah lebih baik jika dosen bersatu memperjuangkan profesionalisme sesuai hak dan kewajibannya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.